Doa sholat witir

thumbnail
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa'i dari Ubay bin Ka'dab, Rasulullah saw setelah shalat Witir membaca doa berikut ini. Subhânal malikil quddûs- 3x "Mahasuci Raja Yang Mahasuci" Kemudian membaca: Rabbul malâ'ikati warruh "Tuhan para malaikat dan ruh." Dilanjutkan dengan membaca doa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ashabus-sunan dari Sayyidina Ali r.a. berikut ini. Allâhumma innî a'ûdzu bi ridhâka min sakhathika wa a'ûdzu bi mu'âfâtika min uqûbatika wa a'ûdzu bika minka lâ uhshi tsanâ'an 'alaika anta kamâ atsnaita 'alâ nafsika. "Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu, aku tak bisa menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji Dzat-Mu sendiri."

Doa sholat taubat

thumbnail
Selepas shalat, perbanyaklah membaca istighfar dan juga sayyidul istighfar (penghulu istighfar). Berikut ini adalah bacaan sayyidul istighfar: Allâhumma anta rabbî lâ ilâha illâ anta, khalaqtanî wa'ana 'abduka wa'ana alâ ahdika wawa'dika mastatha'tu, a'ûdzu bika min syarri mâ shana'tu, Wa'abû'u laka bini'matika 'alayya, wa'abû'u bidzambî, faghfir lî fa innahû lâ yaghfirudz-dzunûba illâ anta. Kemudian membaca doa berikut: Astaghfirullâhal-azhîm, al-ladzî lâ ilâha illâ huwal-hayyul-qayyûma wa'atûbu ilaih, taubata 'abdin zhâlimil lâ yamliku linafsihî dharraw walâ naf'aw walâ mautaw walâ hayataw walâ nusyûrâ. "Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Mahaagung, yang tidak ada tuhan melainkan Dia (Allah) Yang Mahahidup lagi berdiri sendiri. Aku juga bertaubat kepada-Nya, sebagai taubatnya seorang hamba yang menganiaya yang tiada dapat memiliki (menguasai) untuk dirinya sendiri akan kemadharatan dan tidak pula kemanfaatan, kematian, kehidupan, dan kebangkitan." Atau bisa juga membaca doaberikut: Astaghfirullâhal-azhîm, al-ladzî lâ ilâhaillâ huwal-hayyul-qayyûma wa'atûbu ilaih. Allâhummaghfir lî mâ qaddamtu wamâ akhkhartu wamâ asrartu wamâ a'lantu wamâ asraftu wamâ anta a'lamu bihî minnî, antal-muqaddimu wa' antal-mu 'akhkhiru lâ ilâha illâ anta. Allâhumma innî zhalamtu nafsî'zhulman katsîrâ, walâ yaghfirudz-dzunûba illâ anta faghfir lî maghfiratam min 'indik, warhamnî innaka antal-ghafûrur-rahîm. "Saya mohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, Dzat yang tidak ada tuhan kecuali Dia Yang Mahahidup lagi berdiri sendiri dan saya bertaubat kepada-Nya. Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lalu maupun yang akan datang, yang aku lakukan dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dosa yang melampaui batas, dan dosa-dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Tuhan Yang Maha Mendahulukan dan Engkaulah Yang Maha Menangguhkan, tiada tuhan selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak. Dan tidak ada yang bisa memberi pengampunan kecuali Engkau. Karena itu, ampunilah aku dengan pengampunan dari sisi-Mu, dan curahkanlah rahmat kepadaku karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Penyayang."

Doa sholat tasbih

thumbnail
Adapun bacaan tasbih ketika shalat Tasbih adalah sebagai berikut. Subhânallahi walhamdu lillâhi wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar. "Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar" Berikut doa setelah shalat Tasbih: Allâhumma yassir 'alayya kulla 'asîr. Allâhumma yassir 'alayya 'alâ jami'il-a'malish-shâlihati wa yassir 'alayya 'alajtinâbi jamî'il mungkarât. Rabbanâ âtinâ fid-dunya hasanataw wafil âkhirati hasanataw waqinâ 'adzâban-nâr. Walhamdulillâhi rabbil- 'âlamîn. "Ya Allah, mudahkanlah atasku segala perkara yang sukar. Ya Allah, mudahkanlah atasku segala amal shalih, dan mudahkanlah aku untuk menjauhi segala kemungkaran. Ya Allah, berilah kami kebahagiaan di dunia dan berilah kami kebahagiaan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa api neraka, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

Doa sholat tahajud

thumbnail
Seusai mengerjakan shalat Tahajud, perbanyaklah memuji Allah swt dengan berulang kali menyebut nama-nama Allah yang baik (Asmâ ul Husna), memperbanya membaca shalawat kepada Nabi saw, membaca tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, dan istighfâr serta memohon kebahagian hidup di dunia maupun di akhirat dengan membaca doa: Rabbi adkhilni mudkhala shidiqiw wa' akhrijni mukhraja shidqin waj'al li mil ladunka sulthanan nashira. "Ya Allah, masukkanlah aku dengan masuk yang baik, dan keluarkanlah aku dengan keluar yang baik, dan berilah aku pertolongan langsung dari sisi-Mu." (Q.S. Al-Isra' [17]: 80) Kemudian lanjutkan dengan membaca doa Tahajud sebagaimana diajarkan oleh Nabi saw, yaitu Allâhumma lakal-hamdu anta qayyimus-samâwâti wal-ardhi waman fihînn, walakal-hamdu laka mulkus-samâwâti wal-ardhi waman fihînn, walakal-hamdu nûrus-samâwâti wal-ardhi, walakalhamdu antal-haqqu wawa'dukal-haqqu waliqâ 'uka haqquw wal-jannatu haqq, Wan-nâru haqq, wan-nabiyyûna haqq, Wamuhammadun shallallâhu 'alaihi wasallama haqq, was-sâ'atu haqq, allâhumma laka aslamtu, wabika âmantu, wa'alaika tawakkaltu, wa'ilaika anabtu wabika khâshamtu, wa'ilaika hâkamtu, faghfir lî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wamâ asrartu wamâ a'lantu antal-muqqaddimu wa'antalmu'akhkhiru lâ ilâha illâ anta aulâ ilâha ghairuka walâ haula walâ quwwata illâ billâh. "Ya Allah bagi-Mu segala puji, Engkaulah penegak langit dan bumi, alam semesta serta isinya. Bagi-Mu segala puji. Engkau Raja penguasa langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, pemancar cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah yang haqq (benar), dan janji-Mu adalah benar, dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar, dan neraka adalah benar, dan nabi-nabi itu benar, dan Nabi Muhammad saw. adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu kami rindu, dan kepada Engkaulah kami berhukum. Ampunilah kami atas kesalahan yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir. Tiada Tuhan melainkan Engkau. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Allah." (H.R. Bukhari)

Doa sholat istikharah

thumbnail
Setelah selesai shalat Istikharah bacalah doa berikut: Allâhumma innî astakhîruka bi'ilmika wa'astaqdiruka biqudratika wa' as'aluka min fadhlikal-'azhîmi fa'innaka taqdiru walâ aqdiru wata'lamu walâ a'lamu wa'anta 'allâmul-ghuyûb. Allâhumma in kunta ta'lamu anna hâdzal-amra (......) khairul lî fî dînî wama'âsyî wa'âqibati amrî faqdurhu lî wayassirhu lî tsumma bârik fîhi lî, wa'in kunta ta'lamu anna hâdzal-amra syarrul lî fî dînî wama'âsyî wa'âqibati amrî fashrifhu 'annî washrifnî 'anhu waqdur lî al-khairahaitsu kâna tsumma ardhinî bihî. "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon agar Engkau memilihkan sesuatu yang baik menurut-Mu. Dan aku memohon Engkau memberikan kepastian dengan ketentuan-Mu, dan aku memohon dengan kemurahan Engkau Yang Mahaagung. Karena, sesungguhnya Engkau yang berkuasa, sementara aku tidaklah kuasa, dan Engkaulah yang amat mengetahui segala sesuatu yang masih tersembunyi. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa persoalan ini (sebutkan persoalan yang dimaksud) baik bagiku, dalam agamaku, bagi penghidupanku, dan baik pula akibatnya bagiku, maka berikanlah ia kepadaku, dan mudahkanlah masalah ini bagiku, kemudian berilah keberkahan bagiku di dalamnya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hal ini tidak baik bagiku, bagi agamaku, penghidupanku, dan tidak baik akibatnya bagiku, maka jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah aku darinya. Dan berilah kebaikan di mana saja aku berada, kemudian jadikanlah aku orang yang rela atas anugerah-Mu." (H.R. Bukhari dan Ashabus Sunan, dari Jabir bin Abdullah)

Doa sholat hajat

thumbnail
Setelah selesai mengerjakan shalat Hajat, lanjutkan dengan memperbanyak membaca dzikir terutama bacaan istighfar (minimal 100 kali), kemudian membaca shalawat atas Nabi Muhammad saw (minimal 100 kali). Setelah berdzikir, beristighfar, dan membaca shalawat, lanjutkan kemudian dengan membaca doa berikut. La ilâha illallâh, al-halîmul-karîm, subhânallâhi rabbil- 'arsyil- 'azhîm, wal-hamdu lillâhi rabbil- 'âlamîn, as'aluka mûjibâti rahmatika wa'azâ ima maghfiratika wal-ghanîmata min kulli birriw was-salâmata min kulli dzanbiw walâ tada' lî dzanban illâ ghafartahu walâ hamman illâ farrajtahu walâ hâjatan hiya laka ridhan illâ qadhaitahâ yâ arhamar-râhimîn. "Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Mahamulia, Mahasuci Allah Tuhan Yang memelihara 'Arsy yang agung, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang menyampaikan rahmat-Mu (surga) dan ampunan-Mu, keuntungan dari segala kebaikan, serta keselamatan dari segala dosa. Janganlah Engkau biarkan bagiku suatu dosa, kecuali Engkau mengampuninya dan suatu kesempitan tanpa Engkau melapangkannya, dan suatu hajat yang Engkau ridhai tanpa Engkau memenuhi-Nya. Terimalah wahai Yang Maha Penyayang."

Adab berdoa

thumbnail
Doa adalah ibadah. Oleh karena itu, ada beberapa etika atau adab yang harus dipatuhi dalam memanjatkannya. Imam Al-Ghazali dalam Ihyâ''Ulûmuddîn mengemukakan beberapa etika berdoa, sebagai berikut. 1. Memilih waktu yang baik Berdoa memang dapat dilakukan kapan pun, tetapi alangkah istimewanya apabila doa tersebut dipanjatkan pada waktu yang tepat dan mustajab, yaitu waktu sepertiga malam terakhir atau waktu sahur. Hal ini ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya, "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 17-18) Sabda Rasulullah saw juga memperkuatpernyataan ini. Beliau bersabda, "Pada setiap sepertiga malam terakhir, Allah turun ke langit dunia, seraya berfirman, 'Barangsiapa berdoa kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Barangsiapa meminta sesuatu kepada-Ku, pasti Aku beri. Dan barangsiapa meminta ampunan kepada-Ku, pasti Aku ampuni.'" (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) 2. Memilih keadaan yang baik (khidmat) Hakikatnya, waktu yang baik itu berkaitan dengan keadaan yang baik pula. Ketika kita dianjurkan berdoa pada waktu yang baik, waktu sahur misalnya, sebetulnya saat itu diharapkan bersinergi dengan keadaan yang baik juga. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama bahwa waktu sahur adalah waktu bagi hati manusia berada dalam kondisi bersih, ikhlas, dan terbebas dari segala pengaruh. Doa yang teruntai pada waktu itu pun akan memancar secara bersih dan tulus. 3. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan Dalam hal mengangkat tangan ketika berdoa, sahabat Abu Darda' memerintahkan, "Angkatlah tinggi-tinggi tanganmu sebelum dikekang dengan belenggu." Dalil lain dapat kita dapati dari keterangan sahabat Ibnu Abbas r.a. bahwa "Rasulullah saw apabila berdoa selalu mengumpulkan kedua telapak tangannya dalam posisi tepat di hadapan wajahnya." (H.R. Thabrani dari Ibnu Abbas) 4. Diawali dengan berdzikir Dalam berdoa, hendaklah diawali dengan berdzikir kepada Allah swt. Akan lebih baik lagi apabila sebelum berdoa diawali dengan berdzikir menyebut nama-nama Allah yang indah atau Asmaul Husna. Demikian dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya, "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik)." (Q.S. Al-Isrâ' [17]: 110) Sementara itu Abu Sulaiman Ad-Darani menyatakan, "Barangsiapa berdoa kepada Allah hendaklah diawali dengan membaca shalawat kepada Nabi saw, baru kemudian berdoa. Setelah selesai, hendaklah ditutup pula mengabulkan doa yang dipanjatkan antara dua bacaan shalawat." 5. Dengan suara lembut Dalam menafsirkan ayat "Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu," (Q.S. Al-Isra' [17]: 110), Aisyah memberi penjelasan bahwa yang dimaksud shalat dalam ayat tersebut adalah berdoa. Jadi, ketika berdoa hendaklah suara kita dilembutkan. Allah swt telah memuji Nabi Zakariya a.s. yang selalu berdoa dengan suara lembut. Dalam hal ini, Allah swt menegaskan, "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidakmenyukai orang-orang yang melampaui batas." (Q.S. Al-A'raf [7]: 55) 6. Tidak bersajak Saat membaca doa, janganlah memilih redaksi doa yang puitis atau bersajak. Tunjukkan sikap yang tadharru' (rendah diri, penuh harap). Rasulullah saw melarang berdoa dengan bersajakkarena doa seperti ini tidak akan mendatangkan maslahat. 7. Khusyu' dan Tadharru' (Merendahkan diri dan menundukkan hati) Dalam berdoa hendaklah dilakukan dengan kesungguhan, penuh harap, dan rasa takut. Allah swt berfirman, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (Q.S. Al-Anbiyâ'[21]: 90) 8. Yakin pasti terkabul Dalam berdoa hendaklah dibarengi dengan keyakinan bahwa doa yang kita panjatkan pasti akan terkabul. Nabi saw bersabda, "Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa yang kalian panjatkan pasti akan dikabulkan. Ketahuilah, Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang dalam hatinya kosong (tidak yakin atau ragu-ragu akan keterkabulannya)." (H.R. Tirmidzi dari Abu Hurairah) 9. Tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan Jangan tergesa-gesa untuk dikabulkan sehingga mengakibatkan kita cepat bosan dan jemu dalam berdoa. Kita harus selalu mengulang-ulang doa kita. Rasulullah bersabda, "Doa salah seorang di antara kalian pasti dikabulkan, asalkan tidak tergesa-gesa untk segera terkabul, hingga ia mengatakan, 'Aku telah berdoa lama sekali tapi belum dikabulkan.' Dan apabila kalian berdoa, hendaklah meminta sesuatu yang banyak karena kamu meminta kepada DzatYang Mahamulia." (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) 10. Etika batiniah Dalam berdoa hendaklah memperhatikan etika batiniah. Sebab, dengan etika batiniahlah suatu doa akan lebih mudah dikabulkan. Apa etika batiniah itu? Yaitu diri yang bertaubat, menjauhi kezaliman, menghadapkan diri kepada Allah hikmat serta harapan yang tinggi (rajâ'). 11. Ditutup dengan shalawat, kemudian dilanjutkan dengan membaca: Subhâna rabbika rabbil-'izzati 'ammâ yashifûna wa salâmun 'alal-mursalîna wal-hamdulillahi rabbil-âlamîn. "Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam." (Q.S. Ash-Sâffât[37]: 182)

Amalan untuk mempermudah mencari rezeki

thumbnail

Penjelasan:

Amalannya :

BASMALAH 7X tahan nafas ISTIGHFAR 7X tahan nafas SYAHADAT 7X tahan nafas SHOLAWAT 7X tahan nafas HAWQOLAH 7X tahan nafas TAKBIR 7X tahan nafas

BISMILLAHIRRPHMANIRROHIIM 1. ILA HADROTIN NABIYYIL MUSTHOFA SAYYIDINA MUHAMMADIN S.A.W AL-FATIHAH 1X 2. WA ILA HADROTIN SAYYIDINA ABU BAKAR,UMAR,USMAN,ALI R.A AL-FATIHAH 1X 3. WA ILA HADROTIN SAYYIDINA MALAIKAT JIBRIL,MIKAIL,ISROFIL,IZROIL, A.S AL-FATIHAH 1X 4. WA KUSUSON ILA HADROTI SAYYIDINA NABIYULLOH DAWUD A.S AL-FATIHAH 1X 5. WA KUSUSON ILA HADROTI SAYYIDINA NABIYULLOH SULAIMAN A.S AL-FATIHAH 1X 6. WA KUSUSON ILA HADROTI SAYYIDINA MALAIKAT LANAL A.S AL-FATIHAH 1X 7. WA KUSUSON ILA HADROTI SAYYIDINA NABIYULLOH KHIDIR A.S AL-FATIHAH 1X 8. WA KUSUSON ILA HADROTI SAYYIDI SYEKH ABDUL QODIR JAILANI R.A AL-FATIHAH 1X 9. WA KUSUSON ILA RUHI ABI WA UMMI WA ILA JAMI’IL MUSLIMINA WAL MUSLIMATI WAL MU’MININA WAL MU’MINATI AL AHYAI MINHUM WAL AMWAT AL-FATIHAH 1X 10. WA KUSUSON ILA HADROTI SHOKHIBUL IJAZAH ABAH RAFFI CIREBON AL-FATIHAH 1X 11.WA KUSUSON ILA RUHI WAJASADI SHOKHIBUL HAJAT…….(NAMA ANDA DAN NAMA IBU KANDUNG) AL-FATIHAH 1X

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM ALLAHUMMA ROBBANA ANZIL ‘ALAINA MAIDATAM MINAS SAMAI TAKUNU LANA IDAL LI AWWALINA WA AKHIRINA WA AYATAM MINKA WARZUQNA WA ANTA KHOIRUR ROZIQIN ( surat al-qur’an al-maidah ayat 114)

Caranya :

Puasa selama 7 hari, dan selama berpuasa tidak boleh makan barang yang bernyawa,Pada hari terakhir tidak makan dan minum serta tidak boleh tidur sehari semalam. Puasa di mulai pada hari lahir sendiri .

Setiap sholat fardlu amalannya dibaca 9x dan jam 11 malam sehabis sholat hajat baca 1013x.

Insya ALLAH Khasiat amalan ini akan diberi berkah rizki,lancar usaha,rizki agung yang datang dengan tak disangka-sangka. keluarga diberi sandang dan pangan yang cukup.

Penting untuk dibaca!! :

"Ingat selalu bahwa segala sesuatunya ada di tangan Tuhan, jadi gunakan ilmu warisan leluhur Amalan Kerejekian ini hanya sebagai gambaran salah satu bahan pertimbangan dalam hidup Anda (sebagai bacaan dan keingintahuan saja ), bukan sebagai suatu acuan mutlak yang tak terbantah. Semua Ilmu dan Kekuatan semata-mata hanya milik Allah.

Adab ketika anda bangun dari tidur

thumbnail

Islam adalah agama yang indah, sejuk, dan rapi. Tidak ada agama seindah Islam, yang mengajarkan adab-adab mulia sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Di antara adab-adab atau sunnah-sunnah yang diajarkan Islam ketika bangun tidur adalah:

1. Mengusap bekastidur yang ada di wajah maupun tangan. Hal ini menurut Imam An-Nawawi dan Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai sesuatu yang dianjurkan berdasarkan hadist Nabi saw, "Rasulullah bangun tidur kemudian duduk sambil mengusap wajahnya dengan tangannya." (H.R. Muslim)

2. Membaca doaketika bangun tidur, yaitu:

3. Membaca dzikir sesuai sabda Nabi saw Ubadah bin Shamitmengatakan bahwa Nabi bersabda, "Barangsiapa yang bangun di malam hari dan mengucapkan:

Lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa 'alâ kulli syai'in qadîr, alhamdulillâh, wa subhânallâh, wa lâ ilâha illallâhu, wallâhu akbar, wa lâ haula wa lâ quwwataillâ billâh.

'Tiada tuhan melainkan Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan segala pujian, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, tidak ada tuhan melainkan Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah',

kemudian ia mengucapkan, 'Ya Allah, ampunilah aku, 'atau ia berdoa, maka dikabulkanlah doanya. Jika ia berwudhu dan shalat, maka diterima (shalatnya)." (H.R. Bukhari)

4. Atau membaca dzikir sesuai sabdaberikut Rasulullah saw apabila bangun tengah malam untuk shalat malam (Tahajud), beliau mengucapkan:

Lâ ilâha illâ anta subhânaka, Allâhumma astaghfiruka li dzanbî, wa as'aluka rahmataka, Allâhuma zidnî ilman wa lâ tuzigh qalbî ba'da idz hadaitanî wa hablî min ladunka rahmatan innaka antal wahhâb.

"Tidak ada tuhan kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, ya Allah, aku mohon ampunan-Mu atas dosaku dan aku mohon rahmat-Mu. Ya Allah, tambahlah ilmu bagiku dan jangan Engkau memalingkan hatiku setelah Engkau memberiku hidayah (petunjuk) dan karuniakanlah dari sisi-Mu rahmat. Sesungguhnya engkau Maha Pemberi rahmat." (H.R. Abu Dawud)

5. Mencuci kedua tangan sebanyak 3 kali. Rasulullah saw bersabda, "Apabila seorang bangun tidur jangan langsung memasukkan tangannya ke dalam ember (bejana) air sehingga mencucinya lebih dulu tiga kali. Sesungguhnya dia tidak mengetahui di mana tangannya bermalam atau di mana tangannya melayang." (H.R. Abu Dawud)

6. Ber-istintsâr, mengeluarkan atau menyemburkan air dari hidung setelah menghirupnya. Rasulullah saw bersabda, "Apabila salah seorang di antara engkau bangun tidur, hendaklah mengeluarkan air dari hidungnya (istintsâr) tiga kali, karena setan itu menginap di batang hidungnya. (Shahih Muslim, No.351)

7. Bersiwak Hadis riwayat Hudzaifah r.a., ia berkata, "Apabila Rasulullah saw bangun untuk melakukan shalat Tahajud, beliau menggosok giginya dengan siwak." (Shahih Muslim, No.374)

Adab sebelum tidur untuk mencari keberkan

thumbnail

Di antara adab sebelum tidur yang diamalkan oleh Nabi saw adalah:

1. Tidur dalam keadan suci (mempunyai wudhu). Jangan tidur dalam keadaan berhadats (terutama hadats besar), karena hal ini akan menimbulkan kemalasan di waktu bangun malam. 2. Berdzikir (membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali).

Subhânallâh - 33x "Mahasuci Allah"

Alhamdulillâh - 33x "Segala puji bagi Allah"

Allâhu akbar - 33x "Allah Mahabesar"

3. Menyatukan kedua telapak tangan dan meniupnya sambil membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas; kemudian menyapukannya keseluruh tubuh. Lakukan amalan ini tiga (3) kali.

SURAT AL-IKHLAS

Qul huwallâhu ahadun allâhushshamadu lam yalid walam yûlad, walam yakun lahû kufuwan ahad.

"Katakanlah (Muhammad): 'Dia-lah Allah, Yang Maha Esa; Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu; Dia tidak beranakdan tidak pula diperanakkan; Dan tidak ada seorang pun yang setara (sama)dengan-Nya.'" (Q.S. Al-Ikhlash [112]: 1-4)

SURAT AN-NAS

Qul a'ûdzubirabbinnâsi malikinnâsi ilâhinnâsi min syarril waswâsil khannâsi al ladzi yuwaswisu fî shûdurinnasi minal jinnati wannâs.

"Katakanlah (Muhammad): 'Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan ijin dan manusia.'" (Q.S. Al-Falaq [113]: 1-5)

SURAT AL-FALAQ

Qul a'ûdzubirabbil falaqi min syârri mâ khalaqa wamin syarri ghâsiqin idzâ waqaba wamin syarrinnaffâtsâti fil 'uqadi, wamin syarri hâsidin idzâ hasad.

"Katakanlah (Muhammad): 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai shubuh. Dari kejahatan apa yang Dia ciptakan (makhluk)-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup buhul-buhul (ikatan tali). Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.'" (Q.S. An-Nâs [114]: 1-6)

4. Membaca ayat Kursi dan dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah.

AYAT KURSI

Allâhu lâilâha illâhuwal hayyul qayyum lâ ta 'khudzuhusinatuw walâ naum lahû mâ fissamâwâti wa mâ fil ardhi, man dzalladzî yasyfa'u indahu illâ bi idzinihi, ya'lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum wa lâ yuhîthûna bi sya'in min ilmihi illâ bimâ syâ'a wasi'a kursiyyuhussamâwâti wal ardha walâ yauduhû hifzhuhumâ wahuwal aliyyul 'azhîm.

"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 255)

Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah

Âmanar-rasûlu bimâ unzila ilaihi mir-rabbihi walmu'minûna kullun âmana billâhi wa malâ'ikatihi wa kutubihi wa rusulihi, lâ nufarriqu baina ahadin mir-rusulihi waqâlû sami'nâ wa atha'nâ ghufrânaka rabbanâ wa ilaikal mashîr. Lâ yukallifullâhu nafsan illâ wus'ahâ lahâ mâ kasabat wa'alaiha maktasabat, rabbanâ lâ tu'âkhidznâ in-nasînâ au akhtha'nâ, rabbinâ walâ tahmil 'alainâ ishran kamâ hamaltahu 'alal-ladzîna min qablinâ rabbanâ wa lâ tuhammilnâ mâlâ thâqata lanâ bihi wa'fu 'annâ waghfirlanâ warhamnâ anta maulânâ fanshurnâ 'alal-qaumil kâfirîn.

"Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), 'Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,' dan mereka mengatakan "Kami dengar dan kami taat'. (Mereka berdoa), 'Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.' Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.'" (Q.S. Al-Baqarah [2]: 285-286)

5. Membaca doa sebelum tidur, yaitu:

Memuliakan tamu

thumbnail
Allah Ta'ala berfirman: "Adakah sudah datang padamu cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ketika mereka masuk kepada Ibrahim dan mengucapkan: "Salam -selamat-." Ibrahim menjawab: "Salam," sedang dalam hatinya ia mengatakan: "Kaum -atau orang-orang- yang tidak dikenal." Kemudian ia dengan diam-diam pergi kepada keluarganya, lalu datang dengan membawa daging anak sapi yang gemuk. Selanjutnya makanan itu dihidangkan kepada mereka, ia berkata: "Mengapa tidak engkau semua makan?" (adz-Dzariyat: 24) Allah Ta'ala berfirman lagi: "Dan kaumnya -Luth- datang kepadanya dengan cepat-cepat, karena sejak dulu mereka melakukan perbuatan yang buruk. Luth berkata: "Hai kaumku, ini adalah anak-anakku perempuan, mereka lebih suci untukmu semua, maka bertaqwalah engkau semua kepada Allah dan janganlah engkau semua memberikan kehinaan padaku karena tamuku ini. Tidak adakah diantara engkau semua itu seorang lelaki yang bersikap baik?" (Hud: 78) 704. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah mempereratkan hubungan kekeluargaannya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah mengucapkan yang baik ataupun berdiam diri saja -kalau tidak dapat mengucapkan yang baik-." (Muttafaq 'alaih) 705. Dari Abu Syuraih yaitu Khuwailid bin 'Amr al-Khuza'i r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya, yaitu jaizahnya." Para sahabat bertanya: "Apakah jaizahnya tamu itu, ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. bersabda: "Yaitu pada siang hari dan malamnya. Menjamu tamu -yang disunnahkan secara muakkad atau sungguh-sungguh- ialah selama tiga hari. Apabila lebih dari waktu sekian lamanya itu, maka hal itu adalah sebagai sedekah padanya." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat Muslim disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak halal bagi seorang Muslim jikalau bermukim di tempat saudaranya -sesama Muslim-, sehingga ia menyebabkan jatuhnya saudara tadi dalam dosa." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, bagaimanakah tamu dapat menyebabkan dosanya tuan rumah." Beliau s.a.w. bersabda: "Karena tamu itu berdiam di tempat saudaranya sedang tidak ada sesuatu yang dimiliki saudaranya tadi untuk jamuan tamunya itu," lalu tuan rumah mengumpat tamunya, melakukan dusta dan lain-lain.

Wanita penghuni neraka

thumbnail
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻣَﺴْﻠَﻤَﺔَ ﻋَﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻋَﻦْ ﺯَﻳْﺪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺳْﻠَﻢَ ﻋَﻦْ ﻋَﻄَﺎﺀِ ﺑْﻦِ ﻳَﺴَﺎﺭٍ ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃُﺭِﻳﺖُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻳَﻜْﻔُﺮْﻥَ ﻗِﻴﻞَ ﺃَﻳَﻜْﻔُﺮْﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻳَﻜْﻔُﺮْﻥَ ﺍﻟْﻌَﺸِﻴﺮَ ﻭَﻳَﻜْﻔُﺮْﻥَ ﺍﻟْﺈِﺣْﺴَﺎﻥَ ﻟَﻮْ ﺃَﺣْﺴَﻨْﺖَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻦَّ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮَ ﺛُﻢَّ ﺭَﺃَﺕْ ﻣِﻨْﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣِﻨْﻚَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻗَﻂُّ (28) Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atho' bin Yasar dari Ibnu 'Abbas berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering mengingkari". Ditanyakan: "Apakah mereka mengingkari Allah?" Beliau bersabda: "Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: 'aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu".

Muraqabah (Menjaga Diri)

thumbnail
Allah Ta'ala berfirman: "Dialah yang melihatmu ketika engkau berdiri dan juga gerak tubuhmu diantara orang-orang yang bersujud." (asy-Syu'ara': 218-219) Allah Ta'ala berfirman pula: "Dan Dia adalah besertamu di mana saja engkau semua berada." (al-Hadid: 4) Allah Ta'ala berfirman lagi: "Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi baik di bumi ataupun di langit."(Ali-Imran: 5) Lagi firmannya Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi." (al-Fajar: 14) Juga firmannya Allah Ta'ala: "Dia Maha Mengetahui akan kekhianatan mata -maksudnya pandangan mata kepada sesuatu yang dilarang atau kerlingan mata sebagai ejekan dan lain-lain perbuatan yang tidak baik- dan apa saja yang tersembunyi dalam hati." (al-Mu'min: 19) Ayat-ayat yang mengenai bab ini banyak sekali dan kiranya dapat dimaklumi. Adapun Hadis-hadisnya ialah: 60. Pertama: Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Pada suatu ketika kita semua duduk di sisi Rasulullah s.a.w. yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah di muka kita seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak tampak padanya bekas berpergian dan tidak seorangpun dari kita semua yang mengenalnya, sehingga duduklah orang tadi di hadapan Nabi s.a.w. lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri dan berkata: "Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahwa tiada pilihan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau engkau kuasa jalannya ke situ." Orang itu berkata: "Tuan benar." Kita semua heran padanya, karena ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata lagi: "Kemudian beritahukanlah padaku tentang Iman." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari penghabisan -kiamat- dan hendaklah engkau beriman pula kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk -semuanya dari Allah jua." Orang itu berkata: "Tuan benar." Kemudian katanya lagi: Kemudian beritahukanlah padaku tentang Ihsan." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Yaitu hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu." Ia berkata: "Tuan benar." Katanya lagi: "Kemudian beritahukanlah padaku tentang hari kiamat." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Orang yang ditanya -yakni beliau s.a.w. sendiri- tentulah tidak lebih tahu dari orang yang menanyakannya- yakni orang yang datang tiba-tiba tadi. Orang itu berkata pula: "Selanjutnya beritahukanlah padaku tentang alamat-alamatnya (tanda-tanda datangnya) hari kiamat itu." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Yaitu apabila seorang hamba sahaya wanita melahirkan tuan puterinya -maksudnya hamba sahaya itu dikawin oleh pemiliknya sendiri yang merdeka, lalu melahirkan seorang anak perempuan. Anaknya ini dianggap merdeka juga dan dengan begitu dapat dikatakan hamba sahaya perempuan melahirkan tuan puterinya- dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang-telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing sama bermegah-megahan dalam gedung-gedung yang besar -karena sudah menjadi kaya-raya dan bahkan menjabat sebagai pembesar-pembesar negara." Selanjutnya orang itu berangkat pergi. Saya -yakni Umar r.a.- berdiam diri beberapa saat lamanya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Umar, adakah engkau mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi?" Saya menjawab: "Allah dan RasulNyalah yang lebih mengetahuinya." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya orang tadi adalah malaikat Jibril, ia datang untuk memberikan pelajaran tentang agama kepadamu semua." (Riwayat Muslim). Makna Talidulamatu rabbatahaa, yakni tuan puterinya. Adapun pengertiannya ialah oleh sebab banyaknya hamba sahaya perempuan sehingga budak-budak tersebut melahirkan puteri untuk tuan yang memilikinya. Puteri tuannya itu sama kedudukannya dengan tuannya sendiri. Tetapi ada sebagian ulama yang mengatakan tidak sedemikian itu maksudnya. Al-'Aalah, ialah golongan orang-orang fakir. Adapun kata Maliyyan artinya waktu yang lama, yaitu sampai tiga hari tiga malam lamanya. Sebabnya Sayidina Umar terheran-heran karena orang yang bertanya itu semestinya belum mengerti apa yang ditanyakan, tetapi anehnya setelah diberi jawaban, tiba-tiba penanya itu berkata: "Tuan benar," dan kata-kata sedemikian ini tentulah menunjukkan bahwa penanya itu telah mengerti. Barulah keheranan Sayidina Umar itu lenyap setelah diberitahu bahwa yang bertanya tadi sebenarnya adalah Jibril a.s. yang kedatangannya memang sengaja hendak mengajarkan soal-soal keagamaan kepada para sahabat Rasulullah s.a.w. Dalam hadits di atas, ada beberapa hal yang penting kita ketahui, yaitu: a. Mendirikan shalat artinya tidak semata-mata menjalankan shalat saja, tetapi harus dipenuhi pula syarat-syarat serta rukun-rukunnya dan ditepatkan selalu menurut waktu-waktunya. b. Percaya kepada Allah yakni meyakinkan bahwa Allah itu ada (jadi jangan beranggapan bahwa Allah itu tidak ada seperti faham komunis), dan lagi Allah itu bersifat dengan semua sifat kemuliaan, keagungan dan kesempurnaan serta terjauh dari semua sifat kekurangan, kehinaan dan kerendahan. c. Malak (malaikat) ialah makhluk Allah yang dibuat daripada nur (cahaya) dan tidak berjejal-jejal seperti cahaya lampu yang memenuhi rumah. Dengan cahaya seribu lampu, belum juga sesak rumah itu. Dengan ini teranglah apa yang dimaksud dalam sebuah Hadis: Artinya: "Bahwasanya Allah itu mempunyai malaikat, ada yang memenuhi sepertiga alam, ada yang memenuhi dua pertiga alam dan ada yang memenuhi alam seluruhnya." Adapun arti iman kepada malaikat ialah harus percaya bahwa mereka itu benar-benar ada dan bahwa mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Malak itu sebenarnya kata mufrad dan jamaknya berbunyi malaikat. d. Percaya kepada kitab-kitab Allah ialah meyakinkan betul bahwa kitab-kitab suci itu adalah firman Allah yang sebenar-benarnya yang diturunkan kepada Rasul-rasulNya dengan jalan wahyu dan meyakinkan pula bahwa isi yang terkandung di dalamnya itu semua benar. e. Percaya kepada para Rasul artinya beri'tikad seteguh-teguhnya bahwa apa yang mereka bawa itu memang sebenarnya dari Allah Ta'ala. f. Hari Akhir ialah hari Kiamat. Iman dengan hari kiamat artinya mempercayai betul-betul akan terjadinya hari penghabisan itu dan apa saja yang terjadi sesudahnya, misalnya Hasyar (akan dikumpulkannya semua makhluk di padang mahsyar), Hisab (semua amal akan diperhitungkan), Mizan (amal-amal akan ditimbang dalam neraca), menyeberangi jembatan yang disebut Shirath dan kemudian ada yang masuk Jannah (syurga), ada pula yang terus terjun ke (neraka) dan lain-lain hal lagi. g. Qadar ialah ketentuan dari Allah sebelum Allah membuat semua makhluk ini, yang baik maupun yang jahat. Jadi segala macam kejadian adalah dengan kehendak Allah yang telah dipastikan sejak zaman azali dulu yaitu zaman sebelum Allah membuat apa-apa. Tetapi kita jangan lupa berikhtiar, karena kita telah diberi akal oleh Allah untuk mengusahakan bagaimana jalannya agar kita tetap bernasib baik dan terjauh dari nasib buruk. Kita tetap harus berdaya upaya selama hayat dikandung badan. h. Dengan cara ibadah sebagaimana yang terkandung dalam arti kata Ihsan ini, maka tentu akan khusyuklah kita sewaktu menyembah Allah itu. Kalau dapat seolah-olah tahu pada Allah, ini namanya Mukasyafah (terbuka dari semua tabir yang menutup) dan kalau mengangan-angankan bahwa Allah tetap melihat kita, ini namanya Muraqabah (mengawasinya Allah pada kita). i. Tanda-tanda yang dimaksud ini ialah tanda-tanda kecil sebab datangnya hari kiamat itu ada tanda-tandanya yang kecil dan ada tanda-tandanya yang besar. Tanda-tanda kecil artinya datangnya itu masih agak jauh, tetapi bila tanda-tanda besar telah nampak, maka itulah yang menunjukkan bahwa hari kiamat telah sangat dekat sekali saat terjadinya. j. Hamba sahaya perempuan melahirkan tuannya artinya banyak sahaya perempuan itu yang dikawin oleh raja-raja atau pejabat-pejabat tinggi lalu melahirkan anak-anak perempuan sehingga anak-anaknya itu pun akan berkedudukan sebagaimana ayahnya. k. Orang yang tak beralas kaki, telanjang, miskin serta penggembala kambing sama bermegah-megah dalam gedung-gedung besar, maksudnya ialah bahwa yang asalnya hanya penggembala yang miskin hingga seolah-olah tak pernah beralas kaki dan pakaiannya hampir-hampir tidak ada (boleh dikata telanjang) tiba-tiba menjadi pembesar-pembesar negeri dan mendiami gedung-gedung besar lagi indah dan sama berkuasa serta kaya raya. Dengan demikian, keadaan negeri lalu rusak binasa sebab sesuatu perkara semacam pemerintahan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, sebagaimana dalam sebuah hadits diterangkan: Artinya: "Apabila sesuatu perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kerusakannya." Dengan ini tahulah kita bahwa Islam itu mengandung tiga unsur yang utama yakni: 1. Lima Rukun Islam. 2. Enam Rukun Iman. 3. Dua Rukun Ihsan. 61. Kedua: Dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman yaitu Mu'az bin Jabal radhiallahu 'anhuma dari Rasulullah s.a.w. sabdanya: "Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah perbuatan jelek itu dengan perbuatan baik, maka kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan tadi dan pergaulilah para manusia dengan budi pekerti yang bagus." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Keterangan: Hadis ini mengandung tiga macam unsur, yakni bertaqwa kepada Allah, kebaikan diikutkan sesudah mengerjakan kejelekan dan perintah bergaul dengan baik antara seluruh umat manusia. Mengenai yang ketiga tidak kami jelaskan lebih panjang, sebab masing-masing bangsa tentu memiliki cara-cara atau adat-istiadat sendiri. Namun demikian juga mesti dilaksanakan dengan mengikuti ajaran-ajaran yang ditetapkan oleh agama Islam, sehingga tidak melampaui batas, akhirnya terperosok dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta'ala. Jadi di bawah ini akan diuraikan perihal yang dua buah unsur saja, yaitu: 1. Takut pada Allah atau Taqwallah adalah satu kata yang menghimpun arti yang sangat dalam sekali, pokoknya ialah mengikuti dan mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi serta menahan diri dari melakukan larangan-laranganNya. Dengan demikian terjagalah jiwa dan terpeliharalah hati manusia dari kemungkaran, kemaksiatan, kemusyrikan yang terang (jali) atau yang tidak terang (khafi), juga terhindar dari kekufuran dan kemurtadan. Tuhan tentu akan melindungi orang yang taqwa itu dari semuanya tadi. Tentang ini Allah telah berfirman: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang taqwa dan orang-orang yang berlaku baik." 2. Mengikutkan kebaikan sesudah melakukan kejahatan itu misalnya ialah bertaubat, karena dengan demikian lenyaplah segenap kesalahan yang kita lakukan, asalkan kita bertaubat itu dengan sebenar-benarnya, sebagaimana firman Allah: Artinya: "Melainkan orang yang bertaubat dan beriman dan beramal shalih, maka mereka itu kejelekan-kejelekannya akan diganti oleh Allah dengan kebaikan-kebaikan." 62. Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya berada di belakang Nabi s.a.w. -dalam kendaraan atau membonceng- pada suatu hari, lalu beliau bersabda: "Hai anak, sesungguhnya saya hendak mengajarkan kepadamu beberapa kalimat yaitu: Peliharalah Allah -dengan mematuhi perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya-, pasti Allah akan memeliharamu, peliharalah Allah, pasti engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jikalau engkau meminta, maka mohonlah kepada Allah dan jikalau engkau meminta pertolongan, maka mohonkanlah pertolongan itu kepada Allah pula. Ketahuilah bahwasanya sesuatu umat -yakni makhluk seluruhnya- ini, apabila berkumpul -bersepakat- hendak memberikan kemanfaatan padamu dengan sesuatu -yang dianggapnya bermanfaat untukmu-, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan kemanfaatan itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu. Juga jikalau umat -seluruh makhluk- itu berkumpul -bersepakat- hendak memberikan bahaya padamu dengan sesuatu -yang dianggap berbahaya untukmu-, maka mereka itu tidak akan dapat memberikan bahaya itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untukmu. Pena telah diangkat -maksudnya ketentuan-ketentuan telah ditetapkan- dan lembaran-lembaran kertas telah kering -maksudnya catatan-catatan di Lauh Mahfuzh sudah tidak dapat diubah lagi-." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi disebutkan: "Peliharalah Allah, maka engkau akan mendapatkanNya di hadapanmu. Berkenalanlah kepada Allah -yakni tahulah kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan untuk Allah- di waktu engkau dalam keadaan lapang -sehat, kaya dan lain-lain-, maka Allah akan mengetahuimu -memperhatikan nasibmu- di waktu engkau dalam keadaan kesukaran -sakit, miskin dan lain-lain-. Ketahuilah bahwa apa-apa yang terlepas daripadamu itu -keuntungan atau bahaya, tentu tidak akan mengenaimu dan apa-apa yang mengenaimu itu pasti tidak akan dapat terlepas daripadamu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran dan bahwasanya kelapangan itu beserta kesukaran dan bahwasanya beserta kesukaran itu pasti ada kelonggaran." Keterangan: Hal-hal yang perlu dimaklumi dalam hadits ini ialah: a. Ada di belakang Nabi s.a.w. maksudnya ialah membonceng waktu naik bighal (semacam kuda) dengan duduk di belakang beliau. b. Peliharalah Allah, yakni peliharalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah serta berhati-hatilah pada kedua macam hal itu, pasti engkau dijaga olehNya dalam duniamu, agamamu, dirimu dan keluargamu. c. Ummat ialah semua makhluk yang dimaksudkan. d. Pena-pena telah diangkat, artinya ketentuan-ketentuan telah tetap. e. Kertas-kertas telah kering maksudnya catatan-catatan semua yang ada di dalam dunia semesta ini (sebagaimana yang tertera di Lauh Mahfuzh) tentu saja tak ada yang dapat mengubah takdir-takdir dari Allah itu kecuali yang dikehendaki olehNya sendiri sebagaimana firmanNya: Artinya: "Allah menghapus serta menetapkan apa saja yang dikehendaki olehNya dan di sisi Allahlah ummul kitab atau pokok/induk catatan. Ummul kitab ini adalah ilmu Allah yang qadim (dahulu) sejak zaman azali (sebelum ada apa-apa kecuali Allah)." f. Selain Tirmidzi yakni 'Abd bin Humaid dan juga Imam Ahmad. g. Suka mengenal pada Allah artinya senantiasa mendekat dan taat padaNya. Kalau kita suka demikian ketika kita dalam keadaan lapang (banyak rezeki dan badan sehat), maka Allah pasti suka melihat kita yakni mau memberi pertolongan pada kita apabila kita dalam keadaan sukar pada suatu waktu. h. Suatu yang telah ditentukan oleh Allah (sejak zaman azali) akan lepas dari kita, (tidak dapat kita capai), sudah tentu selamanya barang itu tetap lepas dari kita yakni tidak dapat mengenai kita (kita peroleh). Demikian pula sebaliknya, yaitu bahwa sesuatu yang telah ditentukan akan kita dapatkan, maka bagaimanapun juga tidak akan lepas dari kita. i. Pertolongan Allah beserta kesabaran yakni bila kita ingin pertolongan dari Allah, haruslah kita sabar. j. Kelapangan beserta kesusahan dan nanti pasti ada kelonggaran yakni manusia itu tidak mungkin akan terus menerus susah dan sukar, insya Allah pada suatu ketika ia akan menemui kelapangan dan kelonggaran juga. 63. Keempat: Dari Anas r.a., katanya: "Sesungguhnya engkau semua pasti melakukan berbagai amalan -yang diremehkannya sebab dianggap dosa kecil-kecil saja-, yang amalan-amalan itu adalah lebih halus -lebih kecil- menurut pandangan matamu daripada sehelai rambut. Tetapi kita semua di zaman Rasulullah s.a.w. menganggapnya termasuk golongan dosa-dosa yang merusakkan -menyebabkan kecelakaan dan kesengsaraan-." Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan ia mengatakan bahwa arti Almubiqat ialah apa-apa yang merusakkan. 64. Kelima: Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala itu cemburu dan kecemburuan Allah Ta'ala itu ialah apabila seorang manusia mendatangi -mengerjakan- apa-apa yang diharamkan oleh Allah atasnya." (Muttafaq 'alaih) 65. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya ada tiga orang dari kaum Bani Israil, yaitu orang supak -yakni belang-belang kulitnya-, orang botak dan orang buta. Allah hendak menguji mereka itu, kemudian mengutus seorang malaikat kepada mereka. Ia mendatangi orang supak lalu berkata: "Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?" Orang supak berkata: "Warna yang baik dan kulit yang bagus, juga lenyaplah kiranya penyakit yang menyebabkan orang-orang merasa jijik padaku ini." Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah kotoran-kotoran itu dari tubuhnya dan dikaruniai -oleh Allah Ta'ala- warna yang baik dan kulit yang bagus. Malaikat itu berkata pula: "Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?" Orang itu menjawab: "Unta." Atau katanya: "Lembu," yang merawikan hadits ini sangsi -apakah unta ataukah lembu. Ia lalu dikaruniai unta yang bunting, kemudian malaikat berkata: "Semoga Allah memberi keberkahan untukmu dalam unta ini." Malaikat itu seterusnya mendatangi orang botak, kemudian berkata: "Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?" Orang botak berkata: "Rambut yang bagus dan lenyaplah kiranya apa-apa yang menyebabkan orang-orang merasa jijik padaku ini." Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah botak itu dari kepalanya dan ia dikarunia rambut yang bagus. Malaikat berkata pula: "Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?" Ia berkata: "Lembu." Iapun lalu dikaruniai lembu yang bunting dan malaikat itu berkata: "Semoga Allah memberikan keberkahan untukmu dalam lembu ini." Akhirnya malaikat itu mendatangi orang buta lalu berkata: "Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?" Orang buta menjawab: "Yaitu hendaknya Allah mengembalikan penglihatanku padaku sehingga aku dapat melihat semua orang." Malaikat lalu mengusapnya dan Allah mengembalikan lagi penglihatan padanya. Malaikat berkata pula: "Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?" Ia menjawab: "Kambing." Iapun dikarunia kambing yang bunting -hampir beranak. Yang dua ini -unta dan lembu melahirkan anak-anaknya dan yang ini -kambing- juga melahirkan anaknya. Kemudian yang seorang -yang supak- mempunyai selembah penuh unta dan yang satunya lagi -yang botak- mempunyai selembah lembu dan yang lainnya lagi -yang buta- mempunyai selembah kambing. Malaikat itu lalu mendatangi lagi orang -yang asalnya- supak dalam rupa seperti orang supak itu dahulu keadannya -yakni berpakaian serba buruk- dan berkata: "Saya adalah orang miskin, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperoleh rezeki bagiku dalam berpergianku ini. Maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini kecuali Allah kemudian dengan pertolonganmu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang telah mengaruniakan padamu warna yang baik dan kulit yang bagus dan pula harta yang banyak, sudi kiranya engkau menyampaikan maksudku dalam berpergianku ini -untuk sekedar bekal perjalanannya." Orang supak itu menjawab: "Keperluan-keperluanku masih banyak sekali." Jadi enggan memberikan sedekah padanya. Malaikat itu berkata lagi: "Seolah-olah saya pernah mengenalmu. Bukankah engkau dahulu seorang yang berpenyakit supak yang dijijiki oleh seluruh manusia, bukankah engkau dulu seorang fakir, kemudian Allah mengaruniakan harta padamu?" Orang supak dahulu itu menjawab: "Semua harta ini saya mewarisi dari nenek-moyangku dulu dan merekapun dari nenek-moyangnya pula." Malaikat berkata pula: "Jikalau engkau berdusta dalam pendakwaanmu -uraianmu yang menyebutkan bahwa harta itu adalah berasal dari warisan-, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali seperti keadaanmu semula. Malaikat itu selanjutnya mendatangi orang -yang asalnya- botak, dalam rupa seperti orang botak dulu -dan keadaannya- yang hina dina, kemudian berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakan kepada orang supak dan orang botak itu menolak permintaannya seperti halnya orang supak itu pula. Akhirnya malaikat itu berkata: "Jikalau engkau berdusta, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali sebagaimana keadaanmu semula." Seterusnya malaikat itu mendatangi orang -yang asalnya- buta dalam rupanya -seperti orang buta itu dahulu- serta keadaannya -yang menyedihkan-, kemudian ia berkata: "Saya adalah orang miskin dan anak jalan -maksudnya sedang berpergian dan kehabisan bekal, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperoleh rezeki bagiku dalam berpergianku ini, maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini, kecuali Allah kemudian dengan pertolonganmu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang mengembalikan penglihatan untukmu yaitu seekor kambing yang dapat saya gunakan untuk menyampaikan tujuanku dalam berpergian ini." Orang buta dahulu itu berkata: "Saya dahulu pernah menjadi orang buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatan padaku. Maka oleh sebab itu ambillah mana saja yang engkau inginkan dan tinggalkanlah mana saja yang engkau inginkan. Demi Allah saya tidak akan membuat kesukaran padamu -karena tidak meluluskan permintaanmu- pada hari ini dengan sesuatu yang engkau ambil karena mengharapkan keridhaan Allah 'Azzawajalla." Malaikat itu lalu berkata: "Tahanlah hartamu -artinya tidak diambil sedikitpun-, sebab sebenarnya engkau semua ini telah diuji, kemudian Allah telah meridhai dirimu dan memurkai pada dua orang sahabatmu -yakni si supak dan si botak." [8] (Muttafaq alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari kata-kata: La ajhaduka, yang artinya: "Aku tidak akan membuat kesukaran padamu", itu diganti: La ahmaduka, artinya: "Aku tidak memujimu -menyesali diriku- sekiranya hartaku tidak ada yang engkau tinggalkan karena engkau membutuhkannya." [9] 66. Ketujuh: Dari Abu Ya'la yaitu Syaddad bin Aus r.a.dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Orang yang cerdik -berakal- ialah orang yang memperhitungkan keadaan dirinya dan suka beramal untuk mencari bekal sesudah matinya, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengharap-harapkan kemurahan atas Allah -yakni mengharap-harapkan kebahagiaan dan pengampunan di akhirat-, tanpa beramal shalih." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Imam Tirmidzi dan lain-lain ulama mengatakan bahwa makna daana nafsahu artinya membuat perhitungan pada diri sendiri. 67. Kedelapan: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setengah daripada kebaikan keIslaman seseorang ialah apabila ia suka meninggalkan apa-apa yang tidak memberikan kemanfaatan padanya -yakni ia tidak memerlukan untuk mencampuri urusan itu-. Ini adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lain-lain. Keterangan: Meninggalkan sesuatu yang tidak berfaedah misalnya sesuatu yang memang bukan urusan kita atau sesuatu yang sudah terang salah dan batil, maka tidak berguna kita membela atau menolongnya. Demikian pula sesuatu yang bila kita campuri, maka bukan makin baik dan mungkin mencelakakan diri kita sendiri. Semua itu baiklah kita tinggalkan, kalau kita ingin jadi orang Islam yang baik. 68. Kesembilan: Dari Umar r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Janganlah seorang lelaki itu ditanya apa sebabnya ia memukul istrinya -sebab mungkin ia akan malu jikalau sebab pemukulannya diketahui oleh orang lain-." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lainnya. Catatan Kaki: [8] Sabdanya Nabi s.a.w. An-naaqatut 'usyara, dengan dhammahnya 'ain dan fathahnya syin serta dengan mad (yakni dibaca panjang dengan diberi hamzah di belakang alif), artinya: bunting. Sabdanya Antaja dalam riwayat lain berbunyi Fanataja, artinya: Menguasai di waktu keluarnya anak unta. Natij bagi unta adalah sama halnya dengan Qabilah bagi wanita. Jadi natij, artinya penolong unta betina waktu beranak, sedang qabilah, artinya penolong wanita waktu melahirkan atau biasa dinamakan bidan. Sabda Wallada haadzaa dengan disyaddahkan lamnya, artinya: Menguasai waktu melahirkannya ini, jadi sama halnya dengan Antaja untuk unta. Oleh sebab itu kata-kata Muwallid, Natij dan Qabilah adalah sama maknanya, tetapi muwallid dan natij adalah untuk binatang, sedang qabilah adalah untuk selain binatang. Adapun sabda beliau s.a.w.: Inqatha-'at biyal hibaalu, yaitu dengan ha' muhmalah (tanpa bertitik) dan ba' muwahhadah (bertitik sebuah), artinya: beberapa sebab. Jadi jelasnya: Sudah terputus semua sebab (untuk dapat memperoleh bekal guna melanjutkan perjalananku). [9] Sama halnya dengan yang biasa diucapkan oleh orang banyak: "Laisa 'alaatbuulil hayaati nadamun," artinya: Tidaklah selain timbul penyesalan dalam sepanjang kehidupan ini, maksudnya ialah oleh sebab sangat panjangnya masa hidupnya itu.

Kebenaran

thumbnail
Allah Ta'ala berfirman: "Hai sekalian orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah engkau semua bersama-sama dengan orang-orang yang benar." (at-Taubah: 119) Allah Ta'ala berfirman pula: "Dan orang-orang yang benar, lelaki ataupun perempuan." (al-Ahzab: 35) Juga Allah Ta'ala berfirman: "Dan andaikata mereka itu bersikap benar terhadap Allah, pastilah hal itu amat baik untuk mereka sendiri." (Muhammad: 21) Adapun Hadits-hadits yang menerangkannya ialah: 54. Pertama: Dari Ibnu Mas'ud r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesungguhnya kebenaran -baik yang berupa ucapan atau perbuatan- itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seorang itu niscaya melakukan kebenaran sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli melakukan kebenaran. Dan sesungguhnya berdusta itu menunjukkan kepada kecurangan dan sesungguhnya kecurangan itu menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seorang itu niscaya berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berdusta." (Muttafaq 'alaih). Sabda Nabi s.a.w. Yuriibuka, boleh dengan difathahkan ya' nya (dan boleh pula didhamahnya, artinya: "Tinggalkanlah olehmu apa saja yang engkau ragukan perihal boleh atau halalnya sesuatu dan beralihlah kepada yang tidak ada keragu-raguan perihal itu dalam hatimu." 55. Kedua: Dari Abu Muhammad, yaitu Alhasan bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya menghafal sabda dari Rasulullah s.a.w. yaitu: "Tinggalkan apa-apa yang menyangsikan hatimu -yakni jangan terus dilakukan- dan berpindahlah kepada apa-apa yang tidak menyangsikan hatimu [7] -yakni yang hatimu tenang jikalau melakukannya. Maka sesungguhnya bersikap benar itu adalah ketenangan dan berdusta itu menyebabkan timbulnya kesangsian." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih. 56. Ketiga: Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb r.a. dalam Hadisnya yang panjang dalam menguraikan cerita Raja Hercules. Hercules berkata: "Maka apakah yang diperintah olehnya?" Yang dimaksud ialah oleh Nabi s.a.w. Abu Sufyan berkata: "Saya lalu menjawab: "Ia berkata: "Sembahlah akan Allah yang Maha Esa, jangan menyekutukan sesuatu denganNya dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek-moyangmu semua." Ia juga menyuruh supaya kita semua melakukan shalat, bersikap benar, menahan diri dari keharaman serta mempererat kekeluargaan." (Muttafaq 'alaih) 57. Keempat: Dari Abu Tsabit, dalam suatu riwayat lain disebutkan Abu Said dan dalam riwayat lain pula disebutkan Abulwalid, yaitu Sahl bin Hanif r.a., dan dia pernah menyaksikan peperangan Badar, bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang memohonkan kepada Allah Ta'ala supaya dimatikan syahid dan permohonannya itu dengan secara yang sebenar-benarnya, maka Allah akan menyampaikan orang itu ke tingkat orang-orang yang mati syahid, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya." (Riwayat Muslim) 58. Kelima: Dari Abu Hurairah r.a. berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ada seorang Nabi dari golongan beberapa Nabi shalawatullahi wa salamuhu 'alaihim berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya: "Jangan mengikuti peperanganku ini seorang lelaki yang memiliki kemaluan wanita -yakni baru kawin- dan ia hendak masuk tidur dengan istrinya itu, tetapi masih belum lagi masuk tidur dengannya, jangan pula mengikuti peperangan ini seorang yang membangun rumah dan belum lagi mengangkat atapnya -maksudnya belum selesai sampai rampung sama sekali, jangan pula seorang yang membeli kambing atau unta yang sedang bunting tua yang ia menantikan kelahiran anak-anak ternaknya itu -yang dibelinya itu. Nabi itu lalu berperang, kemudian mendekati sesuatu desa pada waktu shalat Asar atau sudah dekat dengan itu, kemudian ia berkata kepada matahari: "Sesungguhnya engkau -hai matahari- adalah diperintahkan -yakni berjalan mengikuti perintah Tuhan- dan sayapun juga diperintahkan -yakni berperang inipun mengikuti perintah Tuhan. Ya Allah, tahanlah jalan matahari itu di atas kita." Kemudian matahari itu tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Beliau mengumpulkan banyak harta rampasan. Kemudian datanglah, yang dimaksud datang adalah api, untuk makan harta rampasan tadi, tetapi ia tidak suka memakannya. Nabi itu berkata: "Sesungguhnya di kalangan engkau semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan, maka dari itu hendaklah berbai'at padaku -dengan jalan berjabatan tangan- dari setiap kabilah seorang lelaki. Lalu ada seorang lelaki yang lekat tangannya itu dengan tangan Nabi tersebut. Nabi itu lalu berkata lagi: "Nah, sesungguhnya di kalangan kabilahmu itu ada yang menyembunyikan harta rampasan. Oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu itu memberikan pembai'atan padaku." Selanjutnya ada dua atau tiga orang yang tangannya itu lekat dengan tangan Nabi itu, lalu beliau berkata pula: "Di kalanganmu semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan." Mereka lalu mendatangkan sebuah kepala sebesar kepala lembu yang terbuat dari emas -dan inilah benda yang disembunyikan, lalu diletakkanlah benda tersebut, kemudian datanglah api terus memakannya -semua harta rampasan. Oleh sebab itu memang tidak halallah harta-harta rampasan itu untuk siapapun umat sebelum kita, kemudian Allah menghalalkannya untuk kita harta-harta rampasan tersebut, di kala Allah mengetahui betapa kedhaifan serta kelemahan kita semua. Oleh sebab itu lalu Allah menghalalkannya untuk kita." (Muttafaq 'alaih). Alkhalifaat, dengan fathahnya kha' mu'jamah dan kasrahnya lam adalah jamaknya khalifatun, artinya ialah unta yang bunting. 59. Keenam: Dari Abu Khalid yaitu Hakim bin Hizam r.a., ia masuk Islam di zaman pembebasan Makkah, sedang ayahnya adalah termasuk golongan pembesar-pembesar Quraisy, baik di masa Jahiliyah ataupun di masa Islam, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dua orang yang berjual-beli itu dengan kebebasan -yakni boleh mengurungkan jual-belinya atau jadi meneruskannya- selama keduanya itu belum berpisah. Apabila keduanya itu bersikap benar dan menerangkan -cacat-cacatnya, maka diberi berkahlah jual-beli keduanya, tetapi jikalau keduanya itu menyembunyikan -cacat-cacatnya- dan sama-sama berdusta, maka dileburlah keberkahan jual-beli keduanya itu." (Muttafaq 'alaih) Keterangan: Kata Shidqun yang berarti benar itu, maksudnya tidak hanya benar dalam pembicaraannya saja, tetapi juga benar dalam amal perbuatannya. Jadi benar dalam kedua hal itulah yang menurut sabda Nabi s.a.w. dapat menunjukkan ke jalan kebajikan dan kebajikan ini yang menunjukkan ke jalan menuju syurga. Secara ringkasnya, seorang itu baru dapat dikatakan benar, manakala ucapannya sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan, atau dengan kata lain ialah manakala amal perbuatannya itu masih bertentangan dengan ucapannya, tetaplah ia dianggap sebagai manusia yang berdusta atau kadzib. Misalnya seorang yang mengaku beragama Islam, tetapi shalat tidak dilakukan, puasa tidak dikerjakan, bahkan mengucapkan dua kalimat syahadat saja tidak dapat, maka dapatkah orang semacam itu dikatakan benar ucapannya? Tentu tidak dapat. Ia tetap berdusta yang oleh Rasulullah s.a.w. disabdakan bahwa kedustaan itu menunjukkan ke jalan kecurangan dan kecurangan itu menunjukkan ke jalan menuju neraka. Catatan Kaki: [7] Jadi bila kila meragu-ragukan sesuatu, sebaiknya kita tinggalkan saja dan beralih pada yang tidak meragu-ragukan, misalnya sesuatu yang belum terang hukumnya yakni samar-samar atau syubhat, maka sebaiknya kita tinggalkan saja.

Sabar

thumbnail
Allah Ta'ala berfirman: "Hai sekalian orang yang beriman, bersabarlah dan cukupkanlah kesabaran itu." (ali-Imran: 200) Allah Ta'ala berfirman pula: "Sesungguhnya Kami akan memberikan cobaan sedikit kepadamu semua seperti ketakutan, ketaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, kemudian sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (al-Baqarah: 155) Lagi Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya -karena amat banyaknya." (az-Zumar: 10) Juga Allah Ta'ala berfirman: "Orang yang bersabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang demikian itu sesungguhnya termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang teguh." (as-Syura: 43) Allah Ta'ala berfirman pula: "Mintalah pertolongan dengan sabar dan mengerjakan shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (al-Baqarah: 153) Lagi Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya Kami hendak menguji kepadamu semua, sehingga Kami dapat mengetahui siapa diantara engkau semua itu yang benar-benar berjihad dan siapa pula orang-orang yang bersabar." (Muhammad: 31) Ayat-ayat yang mengandung perintah untuk bersabar dan yang menerangkan keutamaan sabar itu amat banyak sekali dan dapat dimaklumi. 25. Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy'ari r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bersuci adalah separuh keimanan dan Alhamdulillah itu memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi atau mengisi penuh apa-apa yang ada diantara langit-langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah sebagai tanda -keimanan bagi yang memberikannya- sabar adalah merupakan cahaya pula, al-Quran adalah merupakan hujjah untuk kebahagiaanmu -jikalau mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya- dan dapat pula sebagai hujjah atas kemalanganmu -jikalau tidak mengikuti perintah-perintahnya dan suka melanggar larangan-larangannya. Setiap orang itu berpagi-pagi, maka ada yang menjual dirinya -kepada Allah- berarti ia memerdekakan dirinya sendiri -dari siksa Allah Ta'ala itu- dan ada yang merusakkan dirinya sendiri pula -karena tidak menginginkan keridhaan Allah Ta'ala." (Riwayat Muslim) Keterangan: Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hadits ini ialah: a. Bersuci yakni menyucikan diri dari hadas dan kotoran. b. Memenuhi neraca karena sangat besar pahalanya, hingga neraca akhirat penuh dengan ucapan itu saja. c. Artinya andaikata pahalanya itu dibentuk menjadi jisim yang tampak, pasti dapat memenuhi langit dan bumi. d. Shalat adalah cahaya yakni cahaya yang menerangi kita ke jalan yang diridhai Allah. Sebab orang yang tidak suka bershalat pasti hati nuraninya tertutup daripada kebenaran yang sesungguh-sungguhnya. e. Sedekah yang sunnah atau wajib (zakat) itu merupakan kenyataan yang menunjukkan bahwa orang itu benar-benar telah melakukan perintah Allah. f. Al-Quran itu hujjah (keterangan) bagimu yakni membela dirimu kalau engkau suka melakukan isinya. Atau juga keterangan atasmu yakni mencelakakan dirimu yaitu kalau engkau menyalahi apa-apa yang menjadi perintah Allah. g. Kita di dunia ini ibarat orang yang sedang dalam berpergian ke lain tempat yang hanya terbatas sekali waktunya. Di tempat itu kita menjual diri yakni memperjuangkan nasib untuk hari depan seterusnya yang kekal yaitu di akhirat. Tetapi di dalam memperjuangkan itu, ada diantara kita yang memerdekakan diri sendiri yakni melakukan semua amal baik dan perintah-perintah Allah, sehingga diri kita merdeka nanti di syurga. Tetapi ada pula yang merusak dirinya sendiri karena melakukan larangan-larangan Allah hingga rusaklah akhirnya nanti di dalam neraka, amat pedih siksa yang ditemuinya. 26. Dari Abu Said yaitu Sa'ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu 'anhuma bahwasanya ada beberapa orang dari kaum Anshar meminta -sedekah- kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu pada mereka itu, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya pula sehingga habislah harta yang ada di sisinya, kemudian setelah habis membelanjakan segala sesuatu dengan tangannya itu beliau bersabda: "Apa saja kebaikan -yakni harta- yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan kusimpan sehingga tidak kuberikan padamu semua, tetapi karena sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barangsiapa yang menjaga diri -dari meminta-minta pada orang lain-, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah -kaya hati dan jiwa- dan barangsiapa yang berlaku sabar maka akan dikarunia kesabaran oleh Allah. Tiada seorangpun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas -kegunaannya- daripada karunia kesabaran itu." (Muttafaq 'alaih) 27. Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk orang mu'min itu belaka, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran -yakni yang merupakan bencana- iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim) 28. Dari Anas r.a. katanya: "Ketika Nabi s.a.w. sudah berat sakitnya, maka beliaupun diliputi oleh kedukaan -karena menghadapi sakaratul maut-, kemudian Fathimah radhiallahu 'anha berkata: ''Aduhai kesukaran yang dihadapi ayahanda." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Ayahmu tidak akan memperoleh kesukaran lagi sesudah hari ini." Selanjutnya setelah beliau s.a.w. wafat, Fathimah berkata: "Aduhai ayahanda, beliau telah memenuhi panggilan Tuhannya. Aduhai ayahanda, syurga Firdaus adalah tempat kediamannya. Aduhai ayahanda, kepada Jibril kita sampaikan berita wafatnya." Kemudian setelah beliau dikebumikan, Fathimah radhiallahuanha berkata pula: "Hai Anas, mengapa hatimu semua merasa tenang dengan menyebarkan tanah di atas makam Rasulullah s.a.w itu?" Maksudnya: Melihat betapa besar kecintaan para sahabat kepada beliau s.a.w. itu tentunya akan merasa tidak sampai hati mereka untuk menutupi makam Rasulullah s.a.w. dengan tanah. Mendengar ucapan Fathimah radhiallahu 'anha ini, Anas r.a. diam belaka dan tentunya dalam hati ia berkata: "Hati memang tidak sampai berbuat demikian, tetapi sudah demikian itulah yang diperintahkan oleh beliau s.a.w. sendiri." (Riwayat Bukhari) 29. Dari Abu Zaid, yaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah, -hamba- sahaya Rasulullah s.a.w. serta kekasihnya serta putera kekasihnya pula radhiallahu 'anhuma, katanya: "Puteri Nabi s.a.w. mengirimkan berita kepada Nabi s.a.w. -bahwa anakku sudah hampir meninggal dunia, maka dari itu diminta supaya menyaksikan keadaan kita." (Kita: yakni yang akan meninggal serta yang sedang menungguinya) Beliau lalu mengirimkan kabar sambil menyampaikan salam, katanya: "Sesungguhnya bagi Allah adalah apa yang Dia ambil dan bagiNya pula apa yang Dia berikan dan segala sesuatu di sampingnya itu adalah dengan ajal yang telah ditentukan, maka hendaklah bersabar dan berniat mencari keridhaan Allah." Puteri Nabi s.a.w. mengirimkan berita lagi serta bersumpah nadanya supaya beliau suka mendatanginya dengan sungguh-sungguh. Beliau s.a.w. lalu berdiri dan disertai oleh Sa'ad bin Ubadah, Mu'az bin Jabal, Ubai bin Ka'ab dan Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lelaki lain radhiallahu 'anhum. Anak kecil itu lalu disampaikan kepada Rasulullah s.a.w., kemudian diletakkannya di atas pangkuannya sedang nafas anak itu terengah-engah. Kemudian melelehlah airmata dari kedua mata beliau s.a.w. itu. Sa'ad berkata: "Hai Rasulullah, apakah itu?" Beliau s.a.w. menjawab: "Airmata ini adalah sebagai kesan dari kerahmatan Allah Ta'ala dalam hati para hambaNya." Dalam riwayat lain disebutkan: "Dalam hati siapa saja yang disukai olehNya daripada hambaNya. Hanya saja Allah itu merahmati dari golongan hamba-hambaNya yakni orang-orang yang menaruh belas kasihan -pada sesamanya." (Muttafaq 'alaih). Keterangan: Makna Taqa'qa'u ialah bergerak dan bergoncang keras (berdebar-debar). 30. Dari Shuhaib r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dahulu ada seorang raja dari golongan umat yang sebelum engkau semua, ia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah penyihir itu tua, ia berkata kepada raja: "Sesungguhnya saya ini telah tua, maka itu kirimkanlah padaku seorang anak yang akan saya beri pelajaran ilmu sihir." Kemudian raja itu mengirimkan padanya seorang anak untuk diajarinya. Anak ini di tengah perjalanannya bertemu seorang rahib -pendeta Nasrani yang- berjalan di situ, iapun duduklah padanya dan mendengarkan ucapan-ucapannya. Apabila ia telah datang di tempat penyihir -yakni dari pelajarannya, iapun melalui tempat rahib tadi dan terus duduk di situ- untuk mendengarkan ajaran-ajaran Tuhan yang disampaikan olehnya. Selanjutnya apabila datang di tempat penyihir, iapun dipukul olehnya -karena kelambatan datangnya. Hal yang sedemikian itu diadukan oleh anak itu kepada rahib, lalu rahib berkata: "Jikalau engkau takut pada penyihir itu, katakanlah bahwa engkau ditahan oleh keluargamu dan jikalau engkau takut pada keluargamu, maka katakanlah bahwa engkau ditahan oleh penyihir." Pada suatu ketika di waktu ia dalam keadaan yang sedemikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang yang besar dan menghalang-halangi orang banyak -untuk berlalu di jalanan itu. Anak itu lalu berkata: "Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah pendeta itu yang lebih baik?" Iapun lalu mengambil sebuah batu kemudian berkata: "Ya Allah, apabila perkara pendeta itu lebih dicintai di sisiMu daripada perkara penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu." Selanjutnya binatang itu dilemparnya dengan batu tadi, kemudian dibunuhnya dan orang-orang pun berlalulah. Ia lalu mendatangi rahib dan memberitahukan hal tersebut. Rahib itupun berkata: "Hai anakku, engkau sekarang adalah lebih mulia daripadaku sendiri. Keadaanmu sudah sampai di suatu tingkat yang saya sendiri dapat memakluminya. Sesungguhnya engkau akan terkena cobaan, maka jikalau engkau terkena cobaan itu, janganlah menunjuk kepadaku." Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra serta dapat mengobati orang banyak dari segala macam penyakit. Hal itu didengar oleh kawan seduduk -yakni sahabat karib- raja yang telah menjadi buta. Ia datang pada anak itu dengan membawa beberapa hadiah yang banyak jumlahnya, kemudian berkata: "Apa saja yang ada di sisimu ini adalah menjadi milikmu, apabila engkau dapat menyembuhkan aku." Anak itu berkata: "Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun, sesungguhnya Allah Ta'ala yang dapat menyembuhkannya. Maka jikalau Tuan suka beriman kepada Allah Ta'ala, saya akan berdoa kepada Allah, semoga Dia suka menyembuhkan Tuan. Kawan raja itu lalu beriman kepada Allah Ta'ala, kemudian Allah menyembuhkannya. Ia lalu mendatangi raja terus duduk di dekatnya sebagaimana duduknya yang sudah-sudah. Raja kemudian bertanya: "Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu itu?" Maksudnya: Siapakah yang menyembuhkan butamu itu? Kawannya itu menjawab: "Tuhanku." Raja bertanya: "Adakah engkau mempunyai Tuhan lain lagi selain dari diriku?" Ia menjawab: "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Kawannya itu lalu ditindak -dihukum- oleh raja tadi dan terus-menerus diberikan siksaan padanya, sehingga kawannya itu menunjuk kepada anak yang menyebabkan kesembuhannya. Anak itupun didatangkan. Raja berkata padanya: "Hai anakku, kiranya sihirmu sudah sampai ke tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit lepra dan engkau dapat melakukan ini dan dapat pula melakukan itu." Anak itu berkata: "Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seorangpun, sesungguhnya Allah Ta'ala jualah yang menyembuhkannya." Anak itupun ditindaknya, dan terus-menerus diberikan siksaan padanya, sehingga ia menunjuk kepada pendeta. Pendetapun didatangkan, kemudian kepadanya dikatakan: "Kembalilah dari agamamu!" Maksudnya supaya meninggalkan agama Nasrani dan beralih menyembah raja dan patung-patung. Pendeta itu enggan mengikuti perintahnya. Raja meminta supaya diberi gergaji, kemudian diletakkanlah gergaji itu di tengah kepalanya. Kepala itu dibelahnya sehingga jatuhlah kedua belahan kepala tersebut. Selanjutnya didatangkan pula kawan seduduk raja dahulu itu, lalu kepadanya dikatakan: "Kembalilah dari agamamu itu!" Iapun enggan menuruti perintahnya. Kemudian diletakkan pulalah gergaji itu di tengah kepalanya lalu dibelahnya, sehingga jatuhlah kedua belahannya itu. Seterusnya didatangkan pulalah anak itu. Kepadanya dikatakan: "Kembalilah dari agamamu." Iapun menolak ajakannya. Kemudian anak itu diberikan kepada sekelompok sahabatnya lalu berkata: "Pergilah membawa anak ini ke gunung ini atau itu, naiklah dengannya ke gunung itu. Jikalau engkau semua telah sampai di puncaknya, maka apabila anak ini kembali dari agamanya, bolehlah engkau lepaskan, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ia dari atas gunung itu." Sahabat-sahabatnya itu pergi membawanya, kemudian menaiki gunung, lalu anak itu berkata: "Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu." Kemudian gunung itupun bergerak keras dan orang-orang itu jatuhlah semuanya. Anak itu lalu berjalan menuju ke tempat raja. Raja berkata: "Apa yang dilakukan oleh kawan-kawanmu?" Ia menjawab: "Allah Ta'ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka. Anak tersebut terus diberikan kepada sekelompok sahabat-sahabatnya yang lain lagi dan berkata: "Pergilah dengan membawa anak ini dalam sebuah tongkang (kapal/perahu) dan berlayarlah sampai di tengah lautan. Jikalau ia kembali dari agamanya -maka lepaskanlah ia, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ke lautan itu." Orang-orang bersama-sama pergi membawanya, lalu anak itu berkata: "Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu." Tiba-tiba tongkang itu terbalik, maka tenggelamlah semuanya. Anak itu sekali lagi berjalan ke tempat raja. Rajapun berkatalah: "Apakah yang dikerjakan oleh kawan-kawanmu?" Ia menjawab: "Allah Ta'ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka." Selanjutnya ia berkata pula pada raja: "Tuan tidak dapat membunuh saya, sehingga Tuan suka melakukan apa yang kuperintahkan." Raja bertanya: "Apakah itu?" Ia menjawab: "Tuan kumpulkan semua orang di lapangan menjadi satu dan Tuan salibkan saya di batang pohon, kemudian ambillah sebatang anak panah dari tempat panahku ini, lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya, lalu ucapkanlah: "Dengan nama Allah, Tuhan anak ini," terus lemparkanlah anak panah itu. Sesungguhnya apabila Tuan mengerjakan semua itu, tentu Tuan dapat membunuhku." Raja mengumpulkan semua orang di suatu padang luas. Anak itu disalibkan pada sebatang pohon, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya, lalu meletakkan anak panah di busur, terus mengucapkan: "Dengan nama Allah, Tuhan anak ini." Anak panah dilemparkan dan jatuhlah anak panah itu pada pelipis anak tersebut. Anak itu meletakkan tangannya di pelipisnya, kemudian meninggal dunia. Orang-orang yang berkumpul itu sama berkata: "Kita semua beriman kepada Tuhannya anak ini." Raja didatangi dan kepadanya dikatakan: "Adakah Tuan mengetahui apa yang selama ini Tuan takutkan? Benar-benar, demi Allah, apa yang Tuan takutkan itu telah tiba -yakni tentang keimanan seluruh rakyatnya. Orang-orang semuanya telah beriman." Raja memerintahkan supaya orang-orang itu digiring di celah-celah bumi -yang bertebing dua kanan-kiri- yaitu di pintu lorong jalan. Celah-celah itu dibelahkan dan dinyalakan api di situ, Ia berkata: "Barangsiapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam celah-celah itu," atau dikatakan: "Supaya melemparkan dirinya sendiri ke dalamnya." Orang banyak melakukan yang sedemikian itu -sebab tidak ingin kembali menjadi kafir dan musyrik lagi, sehingga ada seorang wanita yang datang dengan membawa bayinya. Wanita ini agaknya ketakutan hendak menceburkan diri ke dalamnya. Bayinya itu lalu berkata: "Hai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya ibu adalah menetapi atas kebenaran." (Riwayat Muslim). Keterangan: Dzirwatul jabal artinya puncaknya gunung. Ini boleh dibaca dengan kasrahnya dzal mu'jamah atau dhammahnya. Alqurquur dengan didhammahkannya kedua qafnya, adalah suatu macam dari golongan perahu. Ashsha'id di sini artinya bumi yang menonjol (bukit). Alukhduud ialah beberapa belahan di bumi seperti sungai kecil. Adhrama artinya menyalakan. Inkafa-at artinya berubah. Taqaa-'asat, artinya terhenti atau tidak berani maju dan pula merasa ketakutan. 31. Dari Anas r.a., katanya: "Nabi s.a.w. berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah kubur. Beliau bersabda: "Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah!" Wanita itu berkata: "Ah, menjauhlah daripadaku, karena Tuan tidak terkena musibah sebagaimana yang mengenai diriku dan Tuan tidak mengetahui musibah apa itu." Wanita tersebut diberitahu -oleh sahabat beliau s.a.w.- bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi s.a.w. Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi s.a.w. tetapi di mukanya itu tidak didapatinya penjaga-penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata: "Saya -tadi- memang tidak mengenal -bahwa yang berbicara adalah- Tuan -maka itu maafkan pembicaraanku tadi.-" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya bersabar -yang sangat terpuji- itu ialah dikala mendadaknya kedatangan musibah yang pertama." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Wanita itu menangisi anak kecilnya -yang mati." Keterangan: Maksud "Mendadaknya kedatangan musibah yang pertama," bukan berarti ketika mendapatkan musibah yang pertama kali dialami sejak hidupnya, tetapi di saat baru terkena musibah itu ia bersabar, baik musibah itu yang pertama kalinya atau keduanya, ketiganya dan selanjutnya. Jadi kalau sesudah sehari atau dua hari baru ia mengatakan: "Aku sekarang sudah berhati sabar tertimpa musibah yang kemarin itu," maka ini bukannya sabar pada pertama kali, sebab sudah terlambat. 32. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: "Tidak ada balasan bagi seorang hambaKu yang mu'min di sisiKu, di waktu Aku mengambil -mematikan- kekasihnya dari ahli dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaan Allah, melainkan orang itu akan mendapatkan syurga." (Riwayat Bukhari) 33. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal penyakit taun, lalu beliau memberitahukannya bahwa sesungguhnya taun itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Ta'ala kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya, tetapi juga sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah Ta'ala kepada kaum mu'minin. Maka tidak seorang hambapun yang tertimpa oleh taun, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keridhaan Allah serta mengetahui pula bahwa taun itu tidak akan mengenainya kecuali karena telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan memperoleh seperti pahala orang yang mati syahid." (Riwayat Bukhari) 34. Dari Anas r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azzawajalla berfirman: "Jikalau Aku memberi cobaan kepada hambaKu dengan melenyapkan kedua matanya -yakni menjadi buta, kemudian ia bersabar, maka untuknya akan Kuberi ganti syurga karena kehilangan keduanya yakni kedua matanya itu." (Riwayat Bukhari) 35. Dari 'Atha' bin Abu Rabah, katanya: "Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma mengatakan padaku: "Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?" Saya berkata: "Baiklah." Ia berkata lagi: "Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Sesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu lalu saya membuka aurat tubuhku. Oleh karenanya haraplah Tuan mendoakan untuk saya kepada Allah -agar saya sembuh." Beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau suka hendaklah bersabar saja dan untukmu adalah syurga, tetapi jikalau engkau suka maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta'ala agar penyakitmu itu disembuhkan olehNya." Wanita itu lalu berkata: "Saya bersabar," lalu katanya pula: "Sesungguhnya karena penyakit itu, saya membuka aurat tubuh saya. Kalau begitu sudilah Tuan mendoakan saja untuk saya kepada Allah agar saya tidak sampai membuka aurat tubuh itu." Nabi s.a.w. lalu mendoakan untuknya -sebagaimana yang dikehendakinya itu." (Muttafaq 'alaih) 36. Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Mas'ud r.a. katanya: "Seakan-akan saya melihat kepada Rasulullah s.a.w. sedang menceritakan tentang seorang Nabi dari sekian banyak Nabi-nabi shalawatullah wa salamuhu 'alaihim. Beliau dipukuli oleh kaumnya, sehingga menyebabkan keluar darahnya dan Nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil mengucapkan: "Ya Allah ampunilah kaumku itu, sebab mereka itu memang tidak mengerti." (Muttafaq 'alaih) 37. Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Tidak suatupun yang mengenai seorang muslim -sebagai musibah- baik dari kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan datang ataupun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti -yakni sesuatu yang tidak mencocoki kehendak hatinya, ataupun kesedihan -segala macam dan segala waktunya, sampai pun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya -yakni sesuai dengan musibah yang diperolehnya- itu." (Muttafaq 'alaih) Keterangan: Kesakitan apapun yang diderita oleh seorang mu'min, ataupun bencana dalam bentuk bagaimana yang ditemui olehnya itu dapat membersihkan dosa-dosanya dan berpahalalah ia dalam keadaan seperti itu, tetap bersabar dan tabah. Sebaliknya jikalau tidak sabar dan uring-uringan (berkeluh kesah) serta mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, maka bukan pahala yang didapatkan, tetapi makin menambah besarnya dosa. Oleh sebab itu jikalau kita tertimpa oleh kesakitan atau malapetaka, jangan sampai malahan melenyapkan pahala yang semestinya kita peroleh. 38. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: Saya memasuki tempat Nabi s.a.w. dan beliau sedang dihinggapi penyakit panas. Saya lalu berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan dihinggapi penyakit panas yang amat sangat." Beliau kemudian bersabda: "Benar, sesungguhnya saya terkena panas sebagaimana panas dua orang dari engkau semua yang menjadi satu." Saya berkata lagi: "Kalau demikian Tuan tentulah mendapatkan dua kali pahala." Beliau bersabda: "Benar, demikianlah memang keadaannya, tiada seorang Muslimpun yang terkena oleh sesuatu kesakitan, baik itu berupa duri ataupun sesuatu yang lebih dari itu, melainkan Allah pasti menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab musibah yang mengenainya tadi dan diturunkanlah dosa-dosanya sebagaimana sebuah pohon menurunkan -menggugurkan- daunnya -dan ini jikalau disertai kesabaran." Keterangan: Alwa'ku yaitu sangatnya panas (dalam tubuh sebab sakit), tetapi ada yang mengatakan panas (biasa). 39. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan musibah padanya, baik yang mengenai tubuhnya, hartanya ataupun apa-apa yang menjadi kekasihnya." (Riwayat Bukhari) Keterangan: Para ulama mencatat: Yushab, boleh dibaca fathah shadnya dan boleh pula dikasrahkan, (lalu dibaca yushib). 40. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah seorang dari engkau semua itu mengharap-harapkan tibanya kematian dengan sebab adanya sesuatu bahaya yang mengenainya. Tetapi jikalau ia terpaksa harus berbuat demikian maka hendaklah mengatakan: "Ya Allah, tetapkanlah aku hidup selama kehidupanku itu masih merupakan kebaikan untukku dan matikanlah aku apabila kematian itu merupakan kebaikan untukku." (Muttafaq 'alaih) 41. Dari Abu Abdullah, yaitu Khabbab bin Aratti r.a., katanya: "Kita mengadu kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau ketika itu meletakkan pakaian burdahnya di bawah kepalanya sebagai bantal dan berada di naungan Ka'bah, kita berkata: Mengapa Tuan tidak memohonkan pertolongan -kepada Allah- untuk kita, sehingga kita menang? Mengapa Tuan tidak berdoa sedemikian itu untuk kita?" Beliau lalu bersabda: "Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelummu -yakni zaman Nabi-nabi yang lalu, yaitu ada seorang yang diambil- oleh musuhnya, karena ia beriman, kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi, selanjutnya didatangkanlah sebuah gergaji dan ini diletakkan di atas kepalanya, seterusnya kepalanya itu dibelah menjadi dua. Selain itu iapun disisir dengan sisir yang terbuat dari besi yang dikenakan di bawah daging dan tulangnya, semua siksaan itu tidak memalingkan ia dari agamanya -yakni ia tetap beriman kepada Allah. Demi Allah sesungguhnya Allah sungguh akan menyempurnakan perkara ini -yakni Agama Islam, sehingga seorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan'a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau karena takut pada serigala atas kambingnya -sebab takut sedemikian ini lumrah saja. Tetapi engkau semua itu hendak bercepat-cepat -ingin kemenangan- saja." (Riwayat Bukhari) Dalam riwayat lain diterangkan: "Beliau saat itu sedang berbantal burdahnya, padahal kita telah memperoleh kesukaran yang amat sangat dari kaum musyrikin." 42. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Ketika hari peperangan Hunain, Rasulullah s.a.w. melebihkan -mengutamakan- beberapa orang dalam pemberian pembagian -ghanimah/harta rampasan-, lalu memberikan kepada al-Aqra' bin Habis seratus ekor unta dan memberikan kepada 'Uyainah bin Hishn seperti itu pula -seratus ekor unta-, juga memberikan kepada orang-orang yang termasuk bangsawan Arab dan mengutamakan dalam cara pembagian kepada mereka tadi. Kemudian ada seorang lelaki berkata: "Demi Allah, pembagian secara ini, sama sekali tidak ada keadilannya dan agaknya tidak dikehendaki untuk mencari keridhaan Allah." Saya lalu berkata: "Demi Allah, hal ini akan saya beritahukan kepada Rasulullah s.a.w." Saya pun mendatanginya terus memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang dikatakan oleh orang itu. Maka berubahlah warna wajah beliau sehingga menjadi semacam sumba merah -merah padam karena marah- lalu bersabda: "Siapakah yang dapat dinamakan adil, jikalau Allah dan RasulNya dianggap tidak adil juga." Selanjutnya beliau bersabda: "Allah merahmati Nabi Musa. Ia telah disakiti dengan cara yang lebih sangat dari ini, tetapi ia tetap sabar." Saya sendiri berkata: "Ah, semestinya saya tidak memberitahukan dan saya tidak akan mengadukan lagi sesuatu pembicaraanpun setelah peristiwa itu kepada beliau lagi." (Muttafaq 'alaih). Sabda Nabi s.a.w. Kashshirfi dengan kasrahnya shad muhmalah, artinya sumba merah. 43. Dari Anas r.a., berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau Allah menghendaki kebaikan pada seorang hambaNya, maka ia mempercepatkan suatu siksaan -penderitaan- sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan sajalah dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan -siksaannya pada- hari kiamat." Dan Nabi s.a.w. bersabda -juga riwayat Anas r.a.-: "Sesungguhnya besarnya balasan -pahala- itu menilik -tergantung pada- besarnya bala' yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela -menerima bala' tadi-, ia akan memperoleh keridhaan dari Allah dan barangsiapa yang uring-uringan maka ia memperoleh kemurkaan Allah pula." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini hadits hasan. 44. Dari Anas r.a., katanya: "Abu Thalhah itu mempunyai seorang putera yang sedang menderita sakit. Abu Thalhah keluar pergi -menghadap Nabi s.a.w., kemudian anaknya itu dicabutlah ruhnya -yakni meninggal dunia-. Ketika Abu Thalhah kembali -waktu itu ia sedang berpuasa, ia berkata: "Bagaimanakah keadaan anakku?" Ummu Sulaim, yaitu ibu anak tersebut -jadi istrinya Abu Thalhah- menjawab: "Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya." Istrinya itu lalu menyiapkan makanan malam untuknya kemudian Abu Thalhah pun makan malamlah, selanjutnya ia menyetubuhi istrinya itu. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: "Makamkanlah anak itu." Setelah menjelang pagi harinya Abu Thalhah mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu memberitahukan hal tersebut -kematian anaknya yang ia baru mengerti setelah selesai tidur bersama istrinya. Kemudian Nabi bersabda: "Adakah engkau berdua bersetubuh tadi malam?" Abu Thalhah menjawab: "Ya." Beliau lalu bersabda pula: "Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kedua orang ini -yakni Abu Thalhah dan istrinya-. Selanjutnya Ummu Suiaim itu melahirkan seorang anak lelaki lagi. Abu Thalhah lalu berkata padaku -aku di sini ialah Anas r.a. yang meriwayatkan Hadis ini-: "Bawalah ia -anak yg baru lahir tersebut- sehingga engkau datang di tempat Nabi s.a.w. dan besertanya kirimkanlah beberapa biji buah kurma. Nabi s.a.w. bersabda: "Adakah besertanya sesuatu benda?" Ia -Anas- menjawab: "Ya, ada beberapa biji buah kurma." Buah kurma itu diambil oleh Nabi s.a.w. lalu dikunyahnya kemudian diambillah dari mulutnya, selanjutnya dimasukkanlah dalam mulut anak tersebut. Setelah itu digosokkan di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah." (Muttafaq 'alaih). Dalam riwayat Bukhari disebutkan demikian: Ibnu 'Uyainah berkata: "Kemudian ada seorang dari golongan sahabat Anshar berkata: "Lalu saya melihat sembilan orang anak lelaki yang semuanya dapat membaca dengan baik dan hafal akan al-Quran, yaitu semuanya dari anak-anak Abdullah yang dilahirkan hasil peristiwa malam dahulu itu. Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu istrinya itu berkata kepada seluruh keluarganya: "Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti." Abu Thalhah -yang saat itu berpergian- lalu datanglah, kemudian istrinya menyiapkan makan malam untuknya dan iapun makan dan minumlah. Selanjutnya istrinya itu memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut. Seterusnya Abu Thalhah menyetubuhi istrinya. Sewaktu istrinya telah mengetahui bahwa suaminya telah kenyang -puas- dan selesai menyetubuhinya, iapun berkatalah pada Abu Thalhah: "Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembali apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?" Abu Thalhah menjawab: "Tidak boleh menolaknya -yakni harus menyerahkannya." Kemudian berkata pula istrinya: "Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?" Abu Thalhah lalu marah-marah kemudian berkata: "Engkau biarkan aku tidak mengetahui -kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran -maksudnya kotoran bekas bersetubuh, lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku." Iapun lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah s.a.w. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malam mu itu." Anas r.a. berkata: "Kemudian istrinya hamil." Anas r.a. melanjutkan katanya: "Rasulullah s.a.w. sedang dalam berpergian dan Ummu Sulaim itu menyertainya pula -bersama suaminya juga. Rasulullah s.a.w. apabila datang di Madinah di waktu malam dari berpergian, tidak pernah mendatangi rumah keluarganya malam-malam. Ummu Sulaim tiba-tiba merasa sakit karena hendak melahirkan, maka oleh karena Abu Thalhah tertahan -yakni tidak dapat terus mengikuti Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. terus berangkat." Anas berkata: "Setelah itu Abu Thalhah berkata: "Sesungguhnya Engkau tentulah Maha Mengetahui, ya Tuhanku, bahwa saya ini amat tertarik sekali untuk keluar berpergian bersama-sama Rasulullah s.a.w. di waktu beliau keluar berpergian dan untuk masuk -tetap di negerinya- bersama-sama dengan beliau di waktu beliau masuk. Sesungguhnya saya telah tertahan pada saat ini dengan sebab sebagaimana yang Engkau ketahui." Ummu Sulaim lalu berkata: "Hai Abu Thalhah, saya tidak menemukan sakitnya hendak melahirkan sebagaimana yang biasanya saya dapatkan -jikalau hendak melahirkan anak. Maka itu berangkatlah. Kitapun -maksudnya Rasulullah s.a.w., Abu Thalhah dan istrinya- berangkatlah, Ummu Sulaim sebenarnya memang merasakan sakit hendak melahirkan, ketika keduanya itu datang, lalu melahirkan seorang anak lelaki. Ibuku -yakni ibunya Anas r.a.- berkata padaku -pada Anas r.a.: "Hai Anas, janganlah anak itu disusui oleh siapapun sehingga engkau pergi pagi-pagi besok dengan membawa anak itu kepada Rasulullah s.a.w." Ketika waktu pagi menjelma, saya -Anas r.a.- membawa anak tadi kemudian pergi dengannya kepada Rasulullah s.a.w. Ia lalu meneruskan cerita hadits ini sampai selesainya. Keterangan: Hadis di atas itu memberikan kesimpulan tentang sunnahnya melipur orang yang sedang dalam kedukaan agar berkurang kesedihan hatinya, juga bolehnya memalingkan sesuatu persoalan kepada persoalan yang lain lebih dulu, untuk ditujukan kepada hal yang dianggap penting, sebagaimana perilaku istri Abu Thalhah kepada suaminya. Ini tentu saja bila amat diperlukan untuk berbuat sedemikian itu. Sementara itu hadits di atas juga menjelaskan akan sunnahnya seorang istri berhias seelok-eloknya agar suaminya tertarik padanya dan tidak sampai terpesona oleh wanita lain, sehingga menyebabkan terjerumusnya suami itu dalam kemesuman yang diharamkan oleh agama. Demikian pula istri dianjurkan sekali untuk berbuat segala hal yang dapat menggembirakan suami dan melayaninya dengan hati penuh kelapangan serta wajah berseri-seri, baik dalam menyiapkan makanan dan hidangan sehari-hari ataupun dalam seketiduran. Jadi salah sekali, apabila seorang wanita itu malahan berpakaian serba kusut ketika di rumah, tetapi di saat keluar rumah lalu bersolek seindah-indahnya. Juga salah pula apabila seorang istri itu kurang memperhatikan keadaan dan selera suaminya dalam hal makan minumnya, ataupun dalam cara melayaninya dalam persetubuhan. 45. Dari Abu Hurariah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bukanlah orang yang keras -kuat- itu dengan banyaknya berkelahi -bergulat-, sesungguhnya orang-orang yang keras -kuat- ialah orang yang dapat menguasai dirinya di waktu sedang marah-marah." (Muttafaq 'alaih) Keterangan: Ashshura-ah dengan dhammahnya shad dan fathahnya ra', menurut asalnya bagi bangsa Arab, artinya ialah orang yang suka sekali menyerang atau membanting orang banyak (sampai terbaring atau tidak sadarkan diri). 46. Dari Sulaiman bin Shurad r.a., katanya: "Saya duduk bersama Nabi s.a.w. dan di situ ada dua orang yang saling bermaki-makian antara seorang dengan kawannya. Salah seorang dari keduanya itu telah merah padam mukanya dan membesarlah urat lehernya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya saya mengetahui suatu kalimat yang apabila diucapkannya, tentulah hilang apa yang ditemuinya -kemarahannya, yaitu andaikata ia mengucapkan: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim," tentulah lenyap apa yang ditemuinya itu. Orang-orang lalu berkata padanya - orang yang merah padam mukanya tadi: "Sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang direjam." (Muttafaq 'alaih) 47. Dari Mu'az bin Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia kuasa untuk meneruskannya -melaksanakannya- maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mengundangnya di hadapan kepala -yakni disaksikan- sekalian makhluk pada hari kiamat, sehingga disuruhnya orang itu memilih bidadari-bidadari yang membelalak matanya dengan sesuka hatinya. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. 48. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.: "Berilah wasiat padaku." Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan marah." Orang itu mendatanginya berkali-kali tetapi beliau s.a.w. tetap bersabda: "janganlah marah." (Riwayat Bukhari) Keterangan: Yang perlu dijelaskan sehubungan dengan hadits ini ialah: a. Orang yang bertanya itu menurut riwayat ada yang mengatakan dia itu ialah Ibnu Umar, ada yang mengatakan Haritsah atau Abuddarda'. Mungkin juga memang banyak yang bertanya demikian itu. b. Kita dilarang marah ini apabila berhubungan dengan sesuatu yang hanya mengenai hak diri kita sendiri atau hawa nafsu. Tetapi kalau berhubungan dengan hak-hak Allah, maka wajib kita pertahankan sekeras-kerasnya, misalnya agama Allah dihina orang, al-Quran diinjak-injak atau dikencingi, alim ulama diolok-olok padahal tidak bersalah dan lain-lain sebagainya. c. Yang bertanya itu mengulangi berkali-kali seolah-olah meminta wasiat yang lebih penting, namun beliau tidak menambah apa-apa. Hal ini karena menahan marah itu sangat besar manfaat dan faedahnya. Cobalah kalau kita ingat-ingat, bahwa timbulnya semua kerusakan di dunia ini sebagian besar ialah karena manusia ini tidak dapat mengekang hawa nafsu dan syahwatnya, tidak suka menahan marah, sehingga menimbulkan darah mendidih dan akhirnya ingin menghantam dan membalas dendam. 49. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak henti-hentinya bencana -bala'- itu mengenai seorang mu'min, lelaki atau perempuan, baik dalam dirinya sendiri, anaknya ataupun hartanya, sehingga ia menemui Allah Ta'ala dan di atasnya tidak ada lagi sesuatu kesalahanpun." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih. 50. Dari ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: 'Uyainah bin Hishn datang -ke Madinah-, kemudian turun -sebagai tamu- pada anak saudaranya -sepupunya- yaitu Alhur bin Qais. Alhur adalah salah seorang dari sekian banyak orang-orang yang didekatkan oleh Umar r.a. -yakni dianggap sebagai orang dekat dan sering diajak bermusyawarah-, karena para ahli baca al-Quran -yang pandai maknanya- adalah menjadi sahabat-sahabat yang menetap di majlis Umar r.a. serta orang-orang yang diajak bermusyawarah olehnya, baik orang-orang tua maupun yang masih muda-muda usianya. 'Uyainah berkata kepada sepupunya: "Hai anak saudaraku engkau mempunyai wajah -banyak diperhatikan- di sisi Amirul mu'minin ini. Cobalah meminta izin padanya supaya aku dapat menemuinya. Saudaranya itu memintakan izin untuk 'Uyainah lalu Umarpun mengizinkannya. Setelah 'Uyainah masuk, lalu ia berkata: "Hati-hatilah, hai putera Alkhaththab - yaitu Umar, demi Allah, tuan tidak memberikan banyak pemberian -kelapangan hidup- pada kita dan tidak pula tuan memerintah di kalangan kita dengan keadilan." Umar r.a. marah sehingga hampir-hampir saja akan menjatuhkan hukuman padanya. Alhur kemudian berkata: "Ya Amirul mu'minin, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada NabiNya s.a.w. - yang artinya: "Berilah maaf, perintahlah kebaikan dan berpalinglah -jangan menghiraukan- pada orang-orang yang bodoh." Dan ini -yakni 'Uyainah- adalah termasuk golongan orang-orang yang bodoh. Demi Allah, Umar tidak pernah melaluinya -melanggarnya- di waktu Alhur membacakan itu. Umar adalah seorang yang banyak berhentinya -amat mematuhi- di sisi Kitabullah Ta'ala. (Riwayat Bukhari) 51. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya saja akan terjadi sesudahku nanti cara mementingkan diri sendiri -sedang orang lain lebih berhak untuk memperolehnya- dan juga beberapa perkara yang engkau semua akan mengingkarinya. Orang-orang semua berkata: "Ya Rasulullah, maka apakah yang akan Tuan perintahkan pada kita -kaum Muslimin. Beliau s.a.w. bersabda: "Supaya engkau semua menunaikan hak yang menjadi kewajibanmu untuk dilaksanakan dan mohonlah kepada Allah akan hak yang memang menjadi milikmu semua." (Muttafaq 'alaih) 52. Dari Abu Yahya yaitu Usaid bin Hudhair r.a. bahwasanya ada seorang lelaki dari kaum Anshar berkata: "Ya Rasulullah, mengapakah tuan tidak menggunakan saya sebagai pegawai, sebagaimana tuan juga menggunakan si Fulan dan Fulan itu?" Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya engkau semua akan menemui sesudahku nanti suatu cara mementingkan diri sendiri -sedang orang lain lebih berhak untuk memperolehnya-, maka dari itu bersabarlah, sehingga engkau semua menemui aku di telaga -pada hari kiamat." (Muttafaq 'alaih) 53. Dari Abu Ibrahim, yaitu Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah s.a.w. pada suatu hari di waktu beliau itu bertemu dengan musuh, beliau menantikan sehingga matahari condong -hendak terbenam- beliau lalu berdiri di muka orang banyak kemudian bersabda: "Hai sekalian manusia, janganlah engkau semua mengharap-harapkan bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah akan keselamatan. Tetapi jikalau engkau semua menemui musuh itu, maka bersabarlah. Ketahuilah olehmu semua bahwasanya syurga itu ada di bawah naungan pedang." Selanjutnya Nabi s.a.w. bersabda: "Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan, Yang menghancur-leburkan gabungan pasukan musuh. Hancur leburkanlah mereka itu dan berilah kita semua kemenangan atas mereka." (Muttafaq 'alaih) Wabillahittaufiq (Dan dengan Allah itulah adanya pertolongan). Keterangan: Dalam mengulas sabda Rasulullah s.a.w. yang berbunyi: "Syurga itu ada di bawah naungan pedang." Imam al-Qurthubi berkata: "Ucapan itu adalah suatu pertanda betapa indahnya susunan kalimat yang digunakan oleh Rasulullah s.a.w. Sedikit kata-katanya, tetapi luas pengertiannya. Maksudnya ialah bahwa letak syurga itu dengan memberikan perlawanan kepada musuh, manakala mereka telah memulai menyerang kedudukan kita. Jika sudah dalam keadaan terjepit dan musuh sudah menyerbu dekat sekali dengan tempat pertahanan kita, maka tiada jalan lain, kecuali dengan beradu kekuatan, yakni pedanglah yang wajib digunakan untuk penyelesaian, menang atau kalah. Jika pedang kaum Muslimin sudah beradu dengan pedang musuh, masing-masing pihak menangkis serangan musuhnya, pedang meninggi dan merendah, sampai-sampai bayangannya tampak jelas. Naungan pedang itulah yang menyebabkan kaum Muslimin akan memperoleh kebahagiaan dalam dua keadaan: a. Jika kalah dan mati, gugurlah sebagai pejuang syahid dan pasti masuk syurga tanpa dihisab. Di kalangan umatpun menjadi harum namanya. b. Jika menang dan selamat sampai dapat kembali ke rumah ia juga akan merasakan kenikmatan syurga dunia, hidup dalam keluhuran dan kejayaan.